Belanda, salah satu negara yang pernah turut mewarnai sejarah bumi pertiwi tidak hanya meninggalkan rekam jejak dalam bentuk penjajahan, namun juga dalam bidang arsitektur, sistem pemerintahan dan cabang keilmuan lainnya. Konon, pada zaman pendudukan Belanda, Surabaya diposisikan sebagai pelabuhan utama karena letak geografisnya yang strategis. Tak heran, di kota yang dijuluki kota pahlawan ini masih kerap dijumpai beberapa bangunan berarsitektur khas Belanda. Salah satunya adalah Tandon Air Wonokitri.

Di atas puncak bukit Wonokitri ini terdapat satu bangunan yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Keputusan Walikota Surabaya nomor 188.45/574/436.1.2/2011. Tahun pasti bangunan ini didirikan masih belum diketahui, berkisar pada abad 20an. Menurut Ari Bimo Sakti, Manajer Sekretariat dan Humas PDAM Surya Sembada, Tandon Air Wonokitri beroperasi sejak tahun 1921. Hal ini diperjelas dengan adanya salah satu katup air di halaman belakang bertuliskan 1921. Kala itu, air bersih dipasok dari mata air Umbulan, Pasuruan dan didistribusikan ke seluruh Surabaya.

julajuli.com

Berdiri di tanah seluas 4,5 hektare, Tandon Air Wonokitri terdiri atas dua bangunan utama, yaitu tandon depan dan tandon belakang. Keduanya sama-sama berkapasitas 12.000 m³ dan kedalaman 5 meter yang dibalut dinding beton setebal lebih dari 20 cm. Beberapa katup yang berfungsi sebagai pengatur air, dan pipa-pipa besar tetap dipergunakan dengan baik hingga kini. Struktur bangunan pun masih mempertahankan aslinya sejak didirikan oleh kolonial Belanda. Bentuknya mirip benteng dengan dinding berbentuk silinder. Tidak ada renovasi besar-besaran, hanya beberapa sentuhan warna dipoleskan agar sedap dipandang mata.

Jika dulu seluruh air yang masuk didistribusikan di Surabaya, kini kedua tandon berbagi wilayah pendistribusian. Tandon depan mengalirkan air ke beberapa wilayah di Surabaya Barat, seperti Dukuh Kupang, Pakis, Jalan Mayjend Sungkono hingga kompleks militer Kodam V Brawijaya. Sedangkan tandon belakang mengaliri wilayah Gresik. Pasokan air pun tidak lagi datang dari Umbulan, melainkan dari IPAM Karangpilang I.

Nama bangunan ini saat dikelola oleh pemerintah negeri kincir angin juga tidak diketahui karena kurangnya data-data pendukung. Sejak tahun 1950, seluruh aset milik Belanda diambil alih kepemilikannya oleh pemerintah Indonesia. Pengelolaan Tandon Air Wonokitri kini di bawah wewenang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada. Hal lain yang membuatnya istimewa selain sebagai rumah air pertama dan tertua di Surabaya adalah sistem pendistribusiannya yang tidak menggunakan pompa. Hanya mengandalkan grafitasi karena letaknya yang berada di titik tertinggi kota Surabaya.