Mangrove akhirnya menginspirasi orang untuk lebih peduli. Bukan saja untuk kelestariannya, tapi sekaligus menggugah inspirasi kelanjutannya. Seperti yang dilakukan Lulut Sri Yuliani yang hatinya telah tertarik dengan mangrove. Aktivis lingkungan ini lebih dulu mencintai kelestarian mangrove hingga kemudian ia menuangkannya dalam lembar-lembar kain batik sebagai goresan hati.

Brand seni batik ”Seru” yang telah memroduksi banyak lembar kain batik, lebih suka ia sebut sebagai kegiatan seni. ”Karena hasil karya seni, goresan batik dalam selembar kain tidak akan ada kembarannya. Satu karya, satu batik,” jelasnya.

Setiap lembar kain batik yang Anda beli, Lulut mesti menyisihkan sekian persen untuk kembali dihibahkan bagi kelestarian mangrove. ”Jadi, dari batik untuk mangrove. Bukan sebaliknya,” tegasnya. Setelah donasi dari para pembeli kain batik Seru terkumpul, dibelikan mangrove untuk penghijauan kawasan mangrobe di hutan-hutan mangrove yang masih minim.

julajuli.com

Edukasi seperti ini yang ingin ditularkan kepada semua orang. Ia memaparkan, masyarakat harus tahu bagaimana menjaga kelestarian lingkungan, terutama mangrove. Bukan lantas mengeksploitasi mangrove untuk kepentingan-kepentingan bisnis semata. ”Orang yang membeli batik juga akhirnya memperoleh kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan beragam cara,” papar mantan Kepala Sekolah SMA& SMK Panglima Sudirman, Nginden Surabaya.

Karya seni batik mangrove, misalnya, hanya satu bentuk dari serangkaian kreasi yang bisa dibuat dari mangrove. Motif batik mendapat inspirasi dari mangrove. Bahan-bahan yang digunakan, seperti tinta batik, juga dari alam mangrove. ”Bukankah dengan demikian kita harus mengembalikannya ke mangrove?” sergahnya. ”Batik Seru ini sebagai wahana untuk syiar mangrove.”

Karena itu, yang dikembangkan Lulut mulai dari awal proses hingga akhir, bebas dari campuran bahan kimiawi pencemar lingkungan. Penawasan batik, misalnya, sebagai pengikat agar warna batik tetap utuh dan tidak luntur, Lulut menggunakan bahan alami yang tidak berdampak buruk, baik bagi pemakai maupun lingkungan. Tidak seperti kebanyakan pembatik yang menggunakan tunjung atau kapur sirih untuk mengikat warna, karena kedua bahan itu mencemari lingkungan.

julajuli.com

Demikian itu diterapkan Lulut untuk semua proses yang menggunakan bahan dasar mangrove. Ditangan Lulut, mangrove bisa diolah menjadi beragam produk. Mangrove diproses menjadi sirup, limbahnya diolah sehingga menjadi permen, bahan-bahan permen itu juga bisa dibikin es krim, sisanya bisa dibuat untuk aneka kuliner seperti untuk masak rawon, dan lain-lain. Limbahnya bisa dibuat menjadi penyedap rasa pengganti MSG, sisanya diproses lagi menjadi sabun cuci tangan atau kendaraan. Dari situ limbahnya baru diproses menjadi pewarna batik. Limbah dari proses itu menjadi kompos tanaman. Dan begitu seterusnya, tanpa menggunakan campuran bahan kimia sama sekali. Limbah dari semua proses itupun dijamin tidak mencemari lingkungan.

Tak heran bila kini Griya Karya, posko aktivitas Lulut dan kawan-kawannya yang berangkat dari teras rumah, menghasilkan beragam kreasi dari olahan mangrove itu. Semua berbahan dasar mangrove yang diproses secara alami dan menggunakan bahan alami. Hasil penjualan produk-produk olahan mangrove itu, sebagian dikembalikan lagi untuk pengembangan kreativitas anggota.

Sekurang-kurangnya, Lulut sudah memiliki 244 pakem motif batik. Namun yang dilepas ke pasar hanya sekitar 44 pakem motif. Lulut memroduksi dua kelas batik untuk dua pangsa pasar yang dituju. Batik Seru untuk menyasar pasar high class, dan Sitamiya untuk konsumen di bawahnya. Produk batik itu sudah banyak dikonsumsi orang luar negeri. Bagi Anda yang mengerti tentang batik, melihat hasil karya batik Seru bisa mengeluarkan pancaran cahaya ketika terpapar sinar. ”Kata orang sih begitu. Karena itulah kami dipesan untuk tidak membuka rahasia dapur kita untuk yang satu itu,” ujarnya.