Mungkin Anda pernah merasakan nikmatnya, tapi tidak tahu kalau itu namanya shompia. Atau mungkin Anda tahu camilan shompia, tapi tidak tahu siapa pembuatnya. Tak apalah, karena memang ada banyak tanya seputar jajanan satu ini.

Shompia itu jajanan yang isinya ebi, bawang goreng dan kelapa yang dibalut dengan lembaran yang terbuat dari tepung. Bentuknya menjadi bermacam-macam seiring waktu. Awalnya bulat panjang, kemudian bervariasi menjadi bentuk kembang mawar, dan kotak.

Tak perlu ragu lagi soal rasanya yang enak; renyah dan gurih yang membuat Anda tak bisa berhenti menikmatinya. Shompia kotak berasa pedas, sementara yang bulat-panjang dan mawar manis rasanya. Tapi kenali dengan seksama antara shompia yang diproduksi perajin di gang Kapas Madya Kali, kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari Surabaya ini dengan camilan serupa yang mungkin pernah Anda rasakan. Bentuknya mungkin sama, tapi beda rasa.

Isi shompia ini, kata Anis Winarni (38), pembuat shompia di Kapas Madya Kali 66, dibuat dari campuran bahan yang istimewa yang berbeda dari produk buatan perajin lainnya. Mungkin shompia yang pernah Anda nikmati berisi adonan roti yang nyaris sama rasanya.

julajuli.com

Proses produksi mereka, antara lain membuat adonan tepung untuk lembaran kulitnya. Adonan itu kemudian dicelup-celupkan di atas panas wajan berbentuk bulat-bulat tipis, sebentar kemudian disusuk, dan begitu seterusnya. Setelahnya, lembaran itu diisi dengan udang-kelapa-bawang yang sudah diproses sebelumnya. Lalu dibentuk sesuai variasinya; bulat panjang, kotak, atau mawar.

Seusai proses itu selesai, kemudian digoreng untuk finishing. Dan, shompia siap dikemas dan dipasarkan. Proses pembuatan shompia itu tidak cukup dikerjakan oleh hanya seorang. Sekali produksi, setidaknya 2-3 orang yang mengerjakan secara bersamaan.

Produksi shompia di Kapas Madya Kali Surabaya ini, kata Anis, sebenarnya sudah diproduksi sejak lama. Bahkan ada yang sudah 14 tahun menekuni produksi jajanan ini. Namun, kala itu dikerjakan oleh satu dua orang saja. Jumlah produksinya juga masih terbatas.

Lambat laun banyak yang tertarik untuk ikut memproduksi shompia, walau semula hanya untuk membantu memenuhi pesanan. Misalnya, Anis mendapat pesanan shompia oleh seseorang dalam jumlah tertentu, namun tidak mampu dipenuhinya karena terbatasnya tenaga. Alhasil, ia mengajak tetangga yang mau untuk membantu memproduksi shompia, dan akhirnya mereka sendiri juga mendapat pesanan.

Jumlah pemroduksi shompia kemudian bertambah dan kini ada sekitar 8 orang yang aktif memenuhi pesanan pelanggan di gang ini. Diakui Anis, rata-rata produksi camilan ini masih untuk memenuhi sejumlah pesanan yang sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan. Hanya satu dua orang yang memproduksi dalam jumlah banyak untuk dipasarkan di berbagai toko camilan.

julajuli.com

Hanya saja, ia mengungkapkan, shompia hasil produksinya agak berbeda sehingga pelanggan dan jangkauan pasarnya masih terbatas. Selain memenuhi permintaan pelanggan, ia dan teman-teman produsen lainnya tidak berani memajang di sembarang toko. “Karena harganya cukup mahal untuk kelas toko jajan seperti itu,” katanya.

Shompia yang bulat panjang, misalnya, dibanderol dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. Sementara yang berbentuk kotak dan mawar, masing-masing harganya Rp 45 ribu per kilogram.

Sehari-hari produsen shompia ini bisa menyediakan antara 20-30 kilogram per hari. Selama seminggu, mereka berproduksi antara 4-5 hari untuk memenuhi pesanan pelanggan. Produksi mereka akan meningkat dua kali lipat hingga 40-50 kilogram, terutama saat mendekati lebaran.

Di hari-hari sebelum lebaran seperti itu, tenaga yang memproduksi jajanan ini juga berlipat ganda, antara 6 sampai 8 orang yang membantu mengerjakan. Artinya, dari 8 orang yang memiliki usaha home industri shompia, masing-masing dibantu 6 orang misalnya, berarti ada sekitar 50 orang yang sibuk membuat shompia dan kecipratan rejeki dari produksi jajanan legit ini menjelang lebaran.

Anis dan teman-temannya sebenarnya punya keinginan untuk bisa mengembangkan pemasaran lebih luas lagi, misalnya di minimarket Alfamart, Indomaret, Hero atau toko camilan di mall. Namun keinginan itu masih terkendala oleh keraguan akibat belum dikantonginya ijin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

julajuli.com

“Saya belum yakin, karena belum ada ijin POM. Sebenarnya ingin mengurus (ijin, red) tapi saya tidak yakin,” ungkapnya. Keraguan itu muncul, diakuinya, karena tempat produksinya yang berada di sekitar kali yang membelah Jl. Kapas Madya Kali itu. Kegamangan itu telah menyelimuti mereka selama ini, sehingga perkembangan sentra shompia daerah ini belum maksimal seperti yang dimimpikan.

Namun, Anis dan teman-temannya tidak patah arang. Semangatnya tetap menyala untuk menjadikan produksi shompia di daerahnya bisa lebih berkembang dengan pasar yang lebih luas. Keinginan mereka terdukung oleh pola pendampingan dari pihak Dinas Perdagangan dan Industri Kota Surabaya selama ini. Diakuinya, keterlibatan pihak Disperdagin Surabaya selama ini banyak membantu dalam pengembangan produk dan pemasaran.

“Dinas perdagangan senantiasa mendorong kami untuk melakukan inovasi-inovasi baru, baik dari segi bentuk maupun rasa,” cetusnya. Selain itu, pihak Dinas Perdagangan Surabaya juga memfasilitasi pengajuan merek untuk produksi shompia mereka. Anis sendiri sudah mencoba mendaftarkan merek untuk produksinya pada 2013 lalu, namun hasilnya nihil.

Alasannya, nama shompia yang didaftarkan di belakang nama mereknya ditolak. Artinya, tidak boleh menampilkan nama produk dalam satu kesatuan merek yang didaftarkan. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, katanya, dirinya akan kembali membenahi kelengkapan administrasi pengajuan mereknya, dengan harapan pengajuan kali kedua nanti akan mulus prosesnya.