Surabaya memang telah menjadi kota modern. Tapi jangan lupa, kota ini dibangun dan berkembang berangkat dari kampung-kampung. Tak salah bila ada yang menyebut kota ini dengan sebutan Kampung Besar Surabaya. Dan orang-orang kampung asli Surabayalah yang berjasa besar membangun kota hingga menjadi metropolitan seperti sekarang.

Salah satu orang-orang kampung yang patut dicatat dalam sejarah pembangunan kota yakni warga kampung Maspati, terutama di lingkungan RW 08. Kesadaran mereka mungkin mulai tergerak oleh sebuah acara lomba kampung, namun mengakui keseriusan warga dalam menata dan membentuk kampungnya hingga seperti sekarang, tentu lebih patut mendapat apresiasi.

Mereka bergerak bukan asal memperbagus penampilan kampung yang terdiri dari 6 gang yang tak cukup lebar itu. Mereka bahkan sangat bersemangat untuk menjadikan kampungnya menjadi tujuan wisata khas Surabaya.

Keinginan itu bukan isapan jempol semata, karena kampung ini memang dilengkapi obyek-obyek menarik yang memenuhi syarat sebagai tempat wisata. Ada sejarah di dalamnya yang ditandai banyak bangunan kuno, ijonya kampung yang teduh dan asri, serta beragam produk olahan karya warga kampung. Semua itu akan menarik bagi wisatawan lokal, bahkan wisatawan asing.

Kini, kata Sabar Soeastono, Ketua RW 08 Maspati, Kelurahan Bubutan Kecamatan Bubutan Surabaya, tamu wisatawan sudah banyak diarahkan untuk menikmati wisata kampung lawas Maspati. Wisatawan asing juga sudah beberapa kali mampir melihat keaslian kampung wisata Maspati ini. Ada yang dirujuk dari dinas-dinas Pemkot Surabaya dan ada yang datang sendiri, baik rombongan maupun perorangan.

julajuli.com

Jika ditengok dari sisi kesejarahan Surabaya, banyak kampung di kota ini yang menyimpan bukti diam sejarah. Ia hanya ditandai oleh bangunan kuno, barang peninggalan, atau goresan prasasti. Beberapa peninggalan sejarah itu kadang tak tersebut dalam catatan sejarah yang telah beredar, sehingga tak terekam dengan jelas catatan pentingnya.

Namun hal itu bukan menjadi kerisauan warga Maspati. Bagi mereka, bangunan kuno dan barang peninggalan sejarah adalah fakta. Yang jelas, sejarah kota yang dimulai dari masa kerajaan Mataram hingga kolonial Belanda, telah meninggalkan catatan adanya permukiman para tumenggung dan adipati, hingga rumah para jenderal dan pejabat Belanda di kawasan ini.

“Biarlah kelengkapan sejarah akan mengikutinya di masa depan,” sergahnya. Kini, beberapa bangunan dan barang peninggalan kuno itu dirawat rapi oleh warga, termasuk sebuah makam.

Nantinya, kata Sabar, kalau cerita sejarah sudah makin jelas, rumah dan barang peninggalan itu akan dibuatkan catatan agar dapat diketahui oleh masyarakat luas. Rumah-rumah itu dihuni oleh anak cucu pejuang Surabaya, tapi mereka siap tempat tinggal itu dijamah bila ada wisatawan yang ingin mengetahuinya lebih detil. Salah satu diantaranya adalah rumah milik Raden Soemomiharjo, tokoh dari Keraton Surakarta yang oleh warga setempat akrab dipanggil "Ndoro Mantri".

julajuli.com

Disamping itu, kampung yang dihuni 350 KK dan 1.350 jiwa ini juga memiliki obyek lain yang menarik untuk dinikmati. Antara lain gang kampung yang ijo royo-royo, urban farming yang berhasil, pengelolaan sampah yang sukses, pembibitan, tanaman toga, dan olahan buah yang bernilai ekonomis.

Masing-masing gang memiliki produk unggulan yang disediakan untuk wisatawan. Gang 1, misalnya, produk khasnya cincau, gang 2 lidah buaya, gang 3 jahe merah, gang 4 belimbing, gang 5 home industri, dan gang 6 mengembangkan produk olahan khas dari markisa.

Kampung ini, tambahnya, juga menggalakkan tradisi-tradisi kampung yang selama ini telah tenggelam ditelan modernitas. Tradisi mainan anak kampung, seperti engkle, gobak sodor, dan semacamnya terus-menerus ditampilkan.

Tak ketinggalan tradisi dan budaya berpakaian ala orang kampung, seperti memakai slempang sarung dan udeng, dijadikan seragam bersama untuk waktu-waktu tertentu. Terutama Festival kampung Lawas Maspati setiap Mei setiap tahunnya. Bahkan ada penginapan kampung yang disediakan bagi wisatawan yang ingin menginap.

julajuli.com

Posisi kampung ini cukup strategis, berada di tengah kota, 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, sangat mudah dicapai. Hanya, gang kampung ini tidak lebar sehingga mobil atau bis harus parkir agak jauh. Menurut Sabar, sedang diupayakan untuk kerjasama tempat parkir di lokasi Monumen Tugu Pahlawan. Kemudian nantinya akan disediakan becak wisata untuk mengantar wisatawan hingga di ujung gang Maspati.

Meski demikian, tidak mengurangi keistimewaan kampung Maspati untuk menjadi tempat wisata kampung lawas. Bahkan saat menghadiri Festival Kampung Lawas Maspati, Mei 2015 silam, Walikota Tri Rismaharini akan menjadikan kampung Maspati sebagai cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Kampung ini nantinya akan menjadi ikon baru Surabaya. Konsep kampung lawas yang dikembangkan adalah masyarakat hidup bersama dan berdampingan, saling membantu dan gotong royong, sehingga suasana kampung tetap kuat dan sangat solid. “Nilai-nilai semacam itu hanya didapatkan di kampung,” katanya. Ia berharap wisata kampung lawas mampu menjadi ikon wisata baru di Surabaya dan mampu menarik perhatian manca negara untuk berlibur di kawasan tersebut.

Ke depan, Kampung Lawas Maspati akan tetap dengan dinamikanya dan tidak akan berubah artifisial. Wisata kampung lawas Maspati adalah wisata kampung, dan keunikan kampung itulah yang ditawarkan kepada wisatawan. Rencananya, kata Sabar, mengapresiasi perkembangan yang kian membaik, ia dan warga kampung Maspati akan membentuk badan koperasi yang akan mengelola organisasi secara lebih rapi. Bagaimana mengelola usaha terkait obyek wisata, hingga usaha kecil warga dengan segala bentuk kreasi produknya. “Nantinya koperasi yang mengatur dan mengelolanya. Bukan pengurus RT/RW. Harapannya, secara organisasi lebih rapi, lebih berkembang, sekaligus menjauhkan ketimpangan rasa antar warga,” tegasnya.

Kerjasama dengan BUMN yang selama ini dibangun bersama Pelindo III, misalnya, diarahkan untuk menata disain kampung seperti pembuatan gapura Majapahit, melengkapi kebutuhan properti kampung, dan penguatan ekonomi warga setempat.