Sekilas tak ada yang mencolok bila mengunjungi Kampung Tambak Bayan sekarang. Kampung yang berada persis di sisi barat Kalimas sejajar dengan Jl. Kramat Gantung, di wilayah Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan Surabaya ini tidak menampakkan keunikan yang menarik. Kecuali mural yang tergambar di banyak sisi, terutama di Tambak Bayang Tengah 39/41 RT 05/RW 03. Ya. Mural yang tergores di lingkungan Kampung Tambak Bayan itu mengabarkan betapa ada banyak tangan yang sudah ‘menjarah’ kampung ini. Mereka telah meluapkan banyak emosi yang mewarnai hampir seluruh dinding kampung. Hingga kemudian goresan ekspresif itu terhenti, karena tertindih oleh emosi lainnya, yang mengejutkan, menakutkan, dan horor.

Jangan heran bila Anda mendapati sebuah goresan mural yang tak selesai. Atau gambar yang mengalir berubah dari rencana awalnya, karena ada energi lain yang menuntun penyelesaiannya. Dan, masih lagi cerita yang mengiringi keberadaan kampung ini dari banyak sisi yang menarik. Mural hanya satu dari sekian sidik jari ekpresif warga kota yang tertarik dan peduli dengan keunikan kampung ini. Tentu kita semua tahu, pastilah kaum muda yang banyak mengekspresikan kepedulian mereka dengan caranya yang unik dan nyeleneh.

Gepeng, salah satu warga Tambak Bayan generasi ke-4, mengatakan memang warga kampung sangat terbuka kepada semua tamu yang berkunjung. Nyaris semua tamu yang datang ke Tambak Bayan untuk mempelajari tradisi dan budaya warga sehari-hari. Apa yang mereka saksikan kemudian diekspresikan dalam banyak media, seperti mural yang tergambar di banyak tembok kampung. Lihat saja, mural yang menggambarkan seekor naga yang kepalanya memakan buntutnya sendiri. Gambar itu sangat lekat dalam ingatan warga karena menggambarkan nasib mereka belakangan ini.

julajuli.com

Suseno Karja, salah seorang tokoh warga, mencoba menafsirkan apa maksud dibalik gambar mural itu. Katanya, itu terkait dengan kasus sengketa lahan yang tiba-tiba menyeruak diantara kedamaian warga kampung selama ini. Warga yang sudah hidup di kampung ini dari generasi ke generasi menjadi terusik ketenangannya karena tekanan kasus yang kian meruncing.

Selain mural, ekspresi kecintaan kaum muda terhadap warga kampung ini terekam dalam banyak media. Bila Anda menuliskan kata kunci ‘Tambak Bayan’ di papan youtube.com, akan menemui banyak video di sana. Ada video dokumenter, video indie, lagu, dan banyak lagi. Semua karya itu terinspirasi dari kehidupan sehari-hari warga Kampung Tambak Bayan.

Belum lagi acara bedah buku, pentas teater, dan diskusi budaya yang kerap digelar di kampung ini, atau bahkan dipentaskan keliling ke berbagai tempat, terutama di kampus-kampus di Surabaya. Semua mengambil setting yang sama: kehidupan warga kampung Tambak Bayan Surabaya.

Kampung Tambak Bayan juga menarik minat para akademisi untuk berbagai penelitian. Kampung ini mengandung banyak endapan fenomena yang menarik dijadikan obyek penelitian. Tak kurang berbagai skripsi, tesis, dan buku para mahasiswa dan akademisi dari banyak kampus yang membedah kampung ini dari berbagai pespektif ilmu.

julajuli.com

Ada bangunan tua peninggalan kolonial yang masih terjaga hingga kini. Bangunan kolonial ini tentu menggelitik bagi para mahasiswa arsitektur untuk mengkaji dan menelitinya.

Kehidupan warga kampung pun tak kalah menarik diteliti sebagai bahan kajian sosiologis masyarakat perkotaan. Akademisi yang konsen dengan tema sosial kaitannya dengan etnik, masyarakat urban, dan kota metropolitan tentu akan merasa ‘onani intelektual’ dengan keseharian warga kampung ini.

Tak urung, banyak mahasiswa dan aktifis kampus yang keluar masuk kampung ini untuk berbagai kepentingan akademik. Selain menghasilkan karya ilmiah, mereka pun merasa kerasan hilir mudik di kampung dengan warganya yang ramah dan bersahaja ini.

Mungkin sebagian Anda bertanya-tanya, mengapa kampung ini begitu menarik? Pertanyaannya itu akan terjawab dengan sendirinya bila Anda menyempatkan diri mengunjunginya. Mereka akan menyambut Anda dengan senyum ramah dan siap menemani Anda berbincang sedalam yang Anda inginkan.

Warga kampung Tambak Bayan mayoritas keturunan Tionghoa sejak 1930. Kampung ini merupakan kampung pecinan, di luar china town di Surabaya. Warga Tambak bayan RT 05 RW 3 ini terdiri dari 60 KK, yang sekitar 75%-nya warga etnis Tionghoa. Warga kampung pecinan ini sebagian menempati bangunan kolonial seluas 1000 meter persegi, yang dulu terkenal sebagai istal atau kandang kuda. Sebagian lainnya tinggal di petak-petak yang mengitari bangunan peninggalan Belanda itu.

julajuli.com

Rumah-rumah petak itu berukuran 4x3 meter atau 4x5 meter, dan diisi oleh banyak anggota keluarga. Akses jalan keluar masuk warga berupa gang-gang sempit. Namun mereka tampak menikmati kehidupannya. Mereka tinggal di kampung ini merupakan generasi ketiga, bahkan generasi keempat.

Mengakrabi warga kampung Tambak Bayang, kita akan terbawa pada cara pandang berbeda dalam melihat keturunan Tionghoa selama ini. Keseharian mereka ada yang menjadi tukang kayu, tukang kawat, penjahit, dan penjual makanan.

Mereka warga keturunan yang masih taat tradisi. Tiap perayaan imlek, misalnya, tradisi sembahyangan, kunjung-kunjung keluarga, dan kemeriahan atraksi barongsai keliling kampung, masih kental dan bisa disaksikan. Tak heran bila Pemerintah Kota Surabaya punya keinginan menjadikannya sebagai destinasi wisata, terutama saat perayaan imlek berlangsung.

Ada beberapa versi yang mengungkap warga Tambak Bayan. Ada yang menuturkan, warga kampung ini merupakan imigran dari Kwangtun atau Kanton, dulunya. Sekitar 1930-an, ada sekitar 20-an orang Kanton yang bermigrasi melalui jalur laut ke Surabaya, karena merasa sudah tidak nyaman lagi berada di negerinya. Mereka kemudian mendarat dan tinggal di Tambak Bayan Surabaya.