Anda penggemar kuliner malam? Tentu kenal dengan yang namanya Pecel Ambulans. Ya, warung pecel dan nasi campur di Jalan Kranggan, tepat di depan Mall BG Junction. Jam bukanya hanya pada malam hari, pk. 22.00 – 04.00 WIB.

Pada awal berdiri tahun 2002, warung ini bernama Pecel Bu Hana. Sirene mirip ambulans yang dipasang di depan gerobak, membuat para pelanggan lebih senang menyebutnya Pecel Ambulans. Bu Hana, sang pemilik warung, sengaja meletakkan sirene di warungnya untuk memberikan tanda kepada pelanggan. Sirene menyala artinya warung buka, dan sirene yang mati berarti warung akan tutup karena makanan habis.

Mati satu tumbuh seribu, peribahasa yang cocok untuk warung pecel yang ramai pengunjung ini. Herdianto Setiawan, anak Bu Hana, menceritakan kepada SCG awal mula Pecel Ambulans berdiri. “Waktu itu ibu di-PHK dari pekerjaannya. Karena bingung mau kerja apa lagi, ibu mencoba jual pecel dan nasi campur,” kenangnya.

julajuli.com

Usaha keras yang disertai dengan doa tidaklah sia-sia. Sejak tahun 2005, pecel Bu Hana semakin dikenal banyak orang. Menurut Herdianto, anak sulung dari dua bersaudara ini, popularitas Pecel Ambulans didukung maraknya food-blogger dan transaksi via online shop. “Banyak pembeli yang memotret makanannya dan di upload. Entah itu ke akun instagram, path, blog atau hanya sekedar untuk display picture BBM,” timpalnya.

Sosok bu Hana bagi Herdianto sangat luar biasa. Dengan sabar dan pantang menyerah mengelola warungnya selama 14 tahun untuk kehidupan keluarga. Kini, Pecel Ambulans memiliki cabang depot di Jalan Tidar no 276, di depan Sekolah Don Bosco. Perbedaannya dengan yang di Kranggan, Pecel Ambulans di Tidar buka dari siang hari sampai jam 9 malam.

Pembukaan cabang baru membuat bu Hana harus mencari bala bantuan untuk mengelolanya. Untungnya, adik dan kedua anak bu Hana siap memberikan waktu serta tenaga mereka. Mulai dari mempersiapkan peralatan masak, membuka warung hingga melayani ratusan pembeli yang hadir setiap malam. Namun, urusan memasak hanya dikerjakan oleh bu Hana seorang. “Ibu tak mau melepas masakan ke orang lain. Khawatirnya, beda tangan akan beda rasa,” ujar pria usia 26 tahun ini.

julajuli.com

Soal masak memasak, bu Hana memang jago. Bahkan, bisa dibilang memasak adalah hobi terberatnya. Sebelum membuka warung Pecel Ambulans, bu Hana pernah meraih juara 3 di lomba memasak tingkat Kota Surabaya. Inilah alasan mengapa ia tak pernah bosan, meski harus bangun pagi-pagi setiap hari untuk mulai memasak. Baginya, pekerjaan sejalan dengan hobi.

Kini Pecel Ambulans memiliki 27 jenis lauk yang dijual setiap harinya. Meningkat 10 jenis dari pada saat warung didirikan. Di antaranya, ada ayam goreng, ayam tepung, ayam bakar, krengsengan, daging empal, telur dadar, telur ceplok, dll. Satu porsi pecel ataupun nasi campur dibanderol dengan harga yang berbeda, sesuai lauk yang dipesan. Kisarannya antara Rp 15.000,00-Rp 25.000,00.

Sebutan ‘ambulans’ memang sudah menjadi ciri khas pecel bu Hana. Untuk menambah nilai uniknya, sempat terbesit ide bagi Herdianto untuk menambahkan atribut yang berhubungan dengan ambulans. “Ada ide membuat seragam suster-dokter untuk yang berjualan. Sudah dirembukkan dengan keluarga, tapi untuk saat ini belum bisa direalisasikan. Didoakan saja, suatu saat pasti kami wujudkan,” ucap Herdianto penuh harap.