Perjalanan panjang negeri ini bisa kita perhatikan dari catatan-catatan di bangunan-bangunan peninggalannya. Gedung Kantor Pos Surabaya satu dari sekian bangunan sejarah, dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Kota Surabaya, sejak tahun 1996. Pembangunan gedung dimulai tahun 1926 selesai tahun 1928. Perancangnya adalah G.P.J.M. Bolsius, dari Departemen Burgerlijke Openbare Werken (BOV) Batavia. Sepintas dari tampak depan, bangunan gedung ini mirip dengan Stasiun Beos Jakarta Kota, sekarang Stasiun Kota Jakarta. Ditandai dengan lengkungan setengah lingkaran dengan kaca di atas pintu utama gedung. Hanya saja, di gedung Kantor Pos Kebon Rojo memiliki atap yang terkesan oriental dan klasik.

Kantor Pos Surabaya, semula bernama Hoofdpostkantoor, merupakan Kantor Residen Surabaya yang berada di daerah Handelstraat (sekarang Kembang Jepun). Pertama digunakan sebagai Regentstaat, rumah Bupati Surabaya hingga 1881. Pernah digunakan sebagai sekolah Hogere Burgerschool (HBS), di mana Soekarno (Presiden pertama RI) pernah belajar. kemudian digunakan sebagai Hoofdcommissariaat van Politie atau kantor Kepala Komisaris Polisi Surabaya, sampai tahun 1926.  Digunakan sebagai kantor pos (Hoofdpostkantoor), mulai pendudukan Jepang. Dan ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya pada tahun 1996.

“Gedung ini masih utuh, belum ada perubahan, mulai dari struktur bangunan hingga ventilasi, jendela hingga pintu-pintunya masih seperti pertama kali didirikan. Ini juga tampak pada dinding bangunan, yang dibuat dengan bahan batu bata merah dan batu kapur, tanpa campuran semen,” urai Mico Hendra Putra, Manager Pelayanan Kantor Pos Surabaya. Menurut Mico, bila bangunan sekarang memiliki ketebalan dinding maksimal 20 Cm, pada bangunan Kantor Pos memiliki ketebalan tembok mencapai 30 Cm.

Bangunan ini memiliki ruang utama, yang sekarang digunakan sebagai pusat pelayanan, kemudian gedung di sayap kiri kini digunakan untuk gudang. Dan di sayap kanan sekarang digunakan untuk ruang perkantoran. Semuanya masih utuh seperti pertama kali dibangun, kecuali catnya saja yang berubah. “Jadi kami memiliki tiga sisi gedung yang masih orisinil dari sejak dibangun hingga sekarang,” terang Mico.

Di ruang utama, kini dipakai tempat pelayanan terdapat 10 pilar yang masih terjaga. Ventilasi unik yang juga langka, dan langit-langit dengan tinggi lebih dari 6 meter berbentuk setengah trapezium. “Kami juga menyimpan beberapa koleksi barang antik. Seperti sepeda angin kuno buatan Jerman tahun 1930 –an, yang dipakai Pak. Pos. Stempel cap tanggal, barang-barang filateli berupa koleksi perangko yang lama-lama. Ada bis surat (Brievenbus) kuno, yang dibuat sekira tahun 1800 an. Ada pula timbangan lama yang dulu mendukung kerja kantor pos,” papar Mico lagi.

Proses pengiriman surat yang dikelola kantor pos, dari jaman dulu hingga sekarang, masih sama. Proses ini bisa pula dinikmati langsung oleh pengunjung yang berminat mengetahui prosesnya. Untuk menikmati pengalaman ini, pengunjung harus berkirim surat pemberitahuan kepada pihak kantor pos Surabaya. Ditujukan kepada Kepala Kantor Pos Surabaya, Jl. Kebonrojo No. 10 Surabaya, dengan menyebutkan permohonan berkunjung, kapan dan berapa jumlah orang dalam rombongan. Maka pihak kantor pos akan menentukan waktunya, yang tidak berbenturan dengan jam pelayanan kantor pos.