Bagi kaum hawa berhijab, aksesoris tak boleh terlewat. Tambahan aksesoris yang dikenakan di hijab, membuat pemakainya makin terlihat ayu. Tak salah rasanya bila aksesoris seperti bros, headpiece, hingga anting hijab jadi barang incaran. Selain itu aksesoris hijab ini juga tampak padu bila digunakan dalam berbagai suasana, baik santai maupun formal.

Industri kreatif aksesoris hijab berupa bros ini, diakui Riski Hapsari sebagai hobi. Sejak duduk di bangku sekolah menengah hingga kuliah, dunia aksesoris telah diakrabinya. “Waktu itu masih jualan gelang dari yang bisa ditulis namanya”, kenang wanita yang akrab dipanggil Kiki ini. Usaha bros dipilihnya sebagai usaha karena saat itu ia dan teman-temannya menggunakan hijab, dan jarang memakai aksesoris. Sehingga pangsa pasarnya cukup luas.

Usaha yang dirintis oleh alumnus Universitas Airlangga ini bermula 10 tahun lalu, saat ia harus resign dari pekerjaannya karena melahirkan buah hati pertamanya. Jakarta jadi saksi bagaimana Kiki merintis usahanya yang bergerak dalam bidang aksesoris jilbab ini. Memang, waktu itu keluarga kecilnya masih tinggal di Ibukota. Kiki membuat sendiri bros buatannya, dan tetangga sekitar tempat tinggalnya jadi pelanggan setia.

Momentum Lebaran kala itu diakuinya sebagai masa-masa panen. Paket bros yang dibundling dengan kerudung laris manis dibeli pembeli. Tapi masa itu tak berlangsung lama, setelah lebaran usai, usahanya kembali sepi. Dari situ Kiki belajar dan berniat untuk menyeriusi bisnis dalam bidang bros melalui lini bisnisnya yang bernama Koleksi Kikie hingga sekarang.

julajuli.com

Menjajaki dunia online jadi langkah pertamanya dalam mengembangkan bisnis. Melalui blog dan website, selain sebagai pemasaran produk, Koleksi Kikie juga berbagi cara membuat bros. Dari sini, banyak pelanggan yang memberi tanggapan dan mulai tertarik untuk membeli bros-bros cantik bikinannya. Makin sedikit pula pelanggan yang menawar secara ekstrem karena sudah tahu dapur pembuatannya yang tidak mudah.

Satu buah bros dengan ukuran rata-rata 6x8 cm ini diberi harga mulai dari Rp. 25.000- Rp. 50.000, tergantung material bahan dan kerumitan membuatnya. Modelnya standard, pada bagian belakang diberi penampang. Tapi yang bikin beda adalah lempengan sarangannya, dibuat mulai dari kawat hingga batu alam. Hal lain yang buat Koleksi Kikie ini layak dicari yaitu motifnya yang beragam, mulai dari bros batu, wire, resin, daun emas, wire mutiara, mabe super, tawon mini, bunga kristal, dan donat kayu.

Soal material bahan, Koleksi Kikie menggunakan batu-batu alam yang didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti batu agate, mutiara sintetis, lalu manik godo dan manik kaca yang didatangkan dari Jombang dan Pacitan. “Tapi ada beberapa bahan yang kita impor dari Cina seperti lempengan dari besi, karena di Indonesia saya belum nemu produsennya”, ungkap ibu 3 orang ini.

Lewat galeri online di instagram @KoleksiKikie dan sebuah workshop kecil yang bertempat di Jalan Rungkut Asri Barat 14/3, Koleksi Kikie sudah menjamah berbagai kota di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Setiap hari tak kurang dari 100 bros terus diproduksi, dan dikirim ke beberapa kota di Indonesia.

Pasar di Singapura, Malaysia, Australia hingga Amerika juga disapa oleh Koleksi Kikie. “Di Hongkong juga kita ngirim berupa material bahan, yang dibeli oleh teman-teman TKW yang dalam tahap akhir masa tugas untuk membantu menyiapkan usaha kalau sudah tidak jadi TKW lagi”, ujarnya.

Setelah 10 tahun melintang dalam jagad aksesoris ini, Koleksi Kikie juga menambah bisnisnya dengan membuat anting hijab, gelang, kalung, dan tasbih. Tawaran untuk melebarkan sayap juga datang dari beberapa market place yaitu Lazada, BerryBenka, dan Qlapa. Ajakan untuk berkolaborasi dalam sejumlah fashion show juga terus datang. Produk-produknya juga dipasarkan di galeri UKM Surabaya yang ada di UKM MERR dan Ragam Surabaya Store.