Mengagumi yang tersisa dari tata kota kolonial di Surabaya Utara yang masih terpelihara baik, Gedung Hollands Vereeniging Amsterdam (HVA) bisa dijadikan contoh. Kantor Pusat HVA di Jalan Merak 1 yang dibangun tahun 1924, Surabaya, masih tegak sebagai satu cagar budaya penting. Sekarang, bangunan eks HVA tersebut digunakan sebagai kantor pusat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI. Bangunan ini juga dapat dipersepsi sebagai lambang konglomerasi industri gula, dan penetrasi awal kapitalisme di Jawa.

Sejarah mencatat, Hindia Belanda pernah menjadi pengekspor gula terpenting dunia setelah Cuba pada tahun 1930-an. Dukungan 197 pabrik gula (PG) dan produktivitas yang tinggi, memungkinkan negeri ini menghasilkan sekitar 3,0 juta ton. Fenomena keberhasilan industri gula tidak hanya ditunjukkan besarnya devisa yang dihasilkan, tetapi juga keberadaan sejumlah gedung yang pernah menjadi kantor pusat perusahaan-perusahaan gula pada saat itu. Di antara gedung yang berdiri megah dan menjadi lambang konglomerasi industri gula saat itu adalah HVA.

julajuli.com

Keberadaannya menjadi insiprasi akan pentingnya kebangkitan dan kejayaan industri gula nasional dengan reputasi global. PTPN XI sendiri mengoperasikan 16 PG di Jawa dengan kontribusi 18 persen produksi gula nasional. Selain itu, korporasi juga mengelola 1 pabrik etanol (spiritus dan alkohol), pabrik karung. Pada saat itu, HVA mengelola beberapa PG dan usaha agribisnis perkebunan lain di Hindia Belanda.

Di masanya PG merupakan lambang supremasi keberhasilan pembangunan ekonomi yang dibanggakan. Dukungan pemerintah berupa insentif harga yang relatif memadai, pola tanam dan tata ruang, serta perangkat pendukung lain yang sangat memadai, praktis membuat produktivitas gula Indonesia membuat negara-negara lain merasa iri dan ingin belajar banyak ke Indonesia. Orang yang bekerja di lingkungan PG dianggap memiliki status sosial lebih baik. Maklum, industri lain belum berkembang pesat seperti sekarang.

julajuli.com

Gambar kejayaan, dapat terlihat di relief yang berada di lantai dua. Masing-masing relief menggambarkan kejayaan PT Perkebunan yang mengelola kebun kopi, kelapa sawit, nanas, tebu dan serta beberapa kegiatan petani. Tampak pula sebuah relief dari kantor pusat HVA yang berada di Belanda. Relief dan keramik yang digunakan masih asli. Kursi dan meja yang berada di ruang tengah, juga peninggalan jaman Belanda.

Pesona gedung ini sudah terlihat dari jauh. Setidaknya jam berukuran besar yang berada di atas gedung seolah menjadi penanda kemegahan dari peninggalan Belanda yang masih bisa dinikmati. Ruang kontrol jam ini berada di lantai paling atas, mesin penggerak dari jam ini tersimpan dalam lemari kayu. Jam ini menggunakan tenaga listrik sebagai penunjuk waktu. Kalaupun di kesempatan lain jam tersebut tidak bekerja, maka dengan sigap, pegawai bagian arsip yang menempati lantai tersebut langsung memperbaiki.