Anda mungkin pernah menjumpai, atau bahkan mencicipi, bubur campur atau sumsum di Pasar Atom Surabaya. Rasanya boleh jadi tidak berubah dari waktu ke waktu, tapi peminatnya tak pernah surut. Bahkan jenis bubur yang dijajakan semakin banyak varian. Pedagangnya pun silih berganti, turun-temurun.

Bubur seperti itu bisa kita temui di banyak tempat di Surabaya. Tapi yang Anda jumpai di Pasar Atom, merupakan bubur buatan para pedagang dari Kampung Sumbo Surabaya. Sejak difasilitasi tempat untuk berjualan di lingkungan pasar legendaris ini, pedagang bubur Kampung Sumbo tak lagi berjualan keliling seperti sebelumnya.

Para pedagang itu merupakan warga rumah susun (rusun) di Jl. Sumbo, Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto, Surabaya. Mereka berproduksi bubur di rusun yang telah mereka huni sejak puluhan tahun silam itu. Setidaknya ada lebih dari 5 penjaja bubur di rusun yang terdiri dari Blok A,B,C,D,E,F,G itu.

Diantara mereka ada yang menggeluti jajanan bubur ini sejak masih muda belia. Saat itu, warga Kampung Sumbo masih menghuni rumah-rumah petak, rapat, dan tak teratur. Mereka tinggal di situ dari generasi ke generasi. Hingga kemudian rumah-rumah itu diratakan untuk diganti dengan bangunan rusun.

julajuli.com

Tiap blok di rusun Sumbo terdiri dari lebih kurang 50-an unit. Unit-unit kamar berukuran tak seberapa luas itu, ada yang dihuni oleh lebih dari 1 KK. Tak heran bila para pedagang bubur Madura itu membuat buburnya di depan kamar-kamar yang mereka huni.

Sejak pagi, mereka sibuk memproduksi bubur sambil bercengkerama antar tetangga. Diantara mereka ada perempuan bernama Khotijah (50), asal Madura, yang terus sibuk memproses pembuatan bubur. Lokasi tepatnya berada di rusun Sumbo Blok G Lt 2. Khotijah dibantu seorang kerabat yang dengan cekatan terus menyiapkan pengolahan buburnya, diiringi gelak tawa.

Kehidupan seperti itulah yang mengisi hari-hari keluarga Khotijah. Ia menjadi pedagang bubur sejak masih remaja belia usia 17 tahun hingga kini telah beranak satu. Terhitung sudah lebih dari 20 tahun, sejak rusun belum dibangun. Ia telah merasakan berjualan dengan cara berkeliling ke kampung-kampung hingga kemudian diwadahi di lingkungan Pasar Atom.

Boleh dikata, Khotijah menjadi saksi denyut perubahan kampung Sumbo, dari semula perkampungan kumuh hingga menjadi rusun dengan segala dialektikanya. Khotijah tetap bertahan dengan sumber kehidupannya berjualan bubur Madura. Ia mengaku, dengan berbekal jualan bubur, kehidupannya berjalan mulus tanpa kendala berarti.

julajuli.com

Bubur khas Madura semula hanya bubur sumsum plus santan. Lalu bertambah variannya sehingga muncul istilah bubur campur, yang terdiri dari mutiara, srintil, klanting, ketan item, dan lupis. Kreasi bervariasi itu muncul seiring tradisi dan selera pelanggan. Sehingga, Khotijah pun melengkapi jualan buburnya dengan campuran seperti itu. “Orang sukanya macam-macam. Ada yang suka bubur campur, tapi kebanyakan memang suka bubur sumsum,” ungkapnya.

Bubur Khotijah seolah menjadi potret perubahan Kampung Sumbo. Dari perkampungan padat tak teratur, berubah menjadi kampung yang tertata dengan rusun sebagai point of interestnya. Perubahan kampung itu setidaknya membawa pergeseran tradisi warga menuju lebih baik.

Khotijah sendiri sudah memulai berjualan bubur Madura sejak 1982, hampir 10 tahun sebelum rusun Sumbo dibangun, pada 1991. Bersama penjual bubur lainnya, ia serta merta ikut mengambil satu unit di Rusun Sumbo. Dari sudut Blok G no. 210 itulah, Bubur Madura Khotijah diproduksi hingga akhirnya bisa kita nikmati di lingkungan Pasar Atum.