Si pemanis gaya yang satu ini tak boleh absen dimiliki oleh kaum hawa yang aktif dan trendi. Ya ! Pemanis ini tentu saja scarf alias syal. Mau hanya sekedar digantungkan di leher maupun sebagai aksesoris di tas, semuanya sama-sama bikin ayu. Tak ayal, kini scarf jadi fashion item yang wajib hadir di setiap tampilan busana, terutama wanita.

Bila menelisik asal-usulnya, scarf memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebelum moncer seperti sekarang, dulu scarf digunakan oleh orang bangsa Romawi untuk menyeka keringat. Sedangkan di Tiongkok, scarf berfungsi sebagai tanda pangkat tentara Kaisar Cina Cheng (Shih Huang Ti). Berbeda lagi dengan Perancis, scarf begitu populer dikenakan oleh kaum pria. Warna scarf menjadi penanda aliran politik yang mengenakannya. Mereka menyebut scarf dengan istilah cravat, yang diambil dari kata kravata, bahasa Kroasia. Dari cravat itulah berkembang menjadi wooley scarf (scarf dari bahan wol) dengan warna dan disain yang beragam seperti yang kita kenal sekarang. Sejak saat itu scarf bukan hanya bagi kaum pria, tapi juga kaum perempuan.

Penggunaan scarf kini banyak variasinya. Scarf tidak hanya berguna untuk menutup kepala atau menghangatkan leher tapi juga bisa dimanfaatkan sebagai aksesori. Seperti pengganti kalung, headband, sabuk, atau hanya dililitkan di tote bag. Bila City Explorer menulis Scarf di mesin pencari, akan keluar banyak referensi penggunaan scarf yang sedang ngetrend.

julajuli.com

Menurut beberapa pengamat fashion, dari sisi bisnis, masa depan scarf tampak cerah. Di tengah iklim kreatifitas yang begitu tinggi seperti sekarang, peluang mengkreasi scarf dalam disain dan warna yang menarik dan beragam pun ikut meroket. Seperti yang dilakukan oleh Tyas Putri, yang juga turut meramaikan industri fashion item ini melalui brand Pekerjaan Rumah.

Wanita yang akrab disapa Puput ini baru memulai usahanya di Bulan Februari 2017. Dalam kesehariannya, ia memang mengandalkan scarf sebagai pemanis penampilannya. Awalnya ia hanya sebagai pembeli, tapi sekarang sebagai pembuat. Sejak memutuskan keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama tiga tahun, produksi scarf ini digunakan hanya untuk mengisi waktu luang. “Awalnya cuma dipakai untuk diri sendiri. Eh lama kelamaan ada yang tanya, yang order juga makin banyak. Iseng-iseng tapi berpeluang jadi bisnis”, ungkap Puput.

Dalam menjalankan Pekerjaan Rumah, wanita berambut pendek ini dibantu adiknya untuk menerjemahkan keinginan Puput dalam bentuk desain. Orisinalitas ide yang dituangkan dalam bentuk motif jadi keunggulan Pekerjaan Rumah. “Yang bikin unik karena motifnya didesain sendiri, jadi modelnya lebih eksklusif. Selain itu kita juga pakai teknik digital printing yang dicetak di atas sehelai kain satin”, jelas wanita berusia 26 tahun ini.

julajuli.com

Proses produksi masih dilakoni dalam skala kecil. Produksi memang sengaja tak dalam jumlah banyak, tapi ketersediaan stok scarf selalu ada. “Produksi tiap waktu, kita bikin memang ga dalam jumlah banyak. Barang tinggal sedikit, diproduksi lagi. Kita juga ada trial and error, kalau barang ini larisnya lama, mungkin konsumen ga terlalu suka jadi ga diproduksi lagi”, kata Puput.

Soal harga, Puput membanderol karyanya ini mulai dari harga Rp 65.000,00-75.000,00 untuk scarf berukuran 50 x 50 cm. Sedangkan untuk scarf yang berukuran lebih besar, 100 x 100 cm, diberi harga Rp 175.000,00. Harga yang cukup miring dan desain yang eksklusif ini membuat scarf bikinannya banyak diminati kaum hawa dari segala jenis usia di Surabaya hingga Jakarta.

Saat ini, produk scarf dari Pekerjaan Rumah hanya dipasarkan via online lewat Instagram @pekerjaanrumah_id dan beberapa market place. Selain itu, produknya juga hadir dalam sejumlah sesi pemotretan sebagai fashion akseoris. Kedepannya, Pekerjaan Rumah ingin menyapa pangsa konsumen yang lebih besar dengan menghadirkan scarf, totebag, juga note book.