Sudah pernah tahu atau dengar Kampung Tas Gadukan? Mungkin orang Surabaya sendiri belum mengetahuinya. Tapi kebanyakan orang luar Jawa sudah mengenal tas produksi warga kampung Gadukan, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Kreambangan, Surabaya.

Soalnya, warga kampung ini sudah memproduksi tas sejak sekitar 1978. Saat itu, hampir semua penduduk kampung membuat tas sebagai penopang kehidupan. Tas buatan warga Gadukan itu pun melanglang buana ke kota-kota besar di luar Jawa, seperti Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makassar.

Sementara di Surabaya sendiri, kabar tentang tas Gadukan terdengan samar, kencang, samar, lalu nyaris tak terdengar. Hingga kemudian kabar kampung ini kembali terdengar menguat belakangan ketika pengembangan obyek wisata di Surabaya utara mulai didengungkan. Kampung Tas Gadukan digadang sebagai salah satu obyek wisata alternatif yang akan memperkaya paket wisata lainnya di sisi utara Surabaya.

Kini, jumlah perajin tas Gadukan mencapai 60an orang. Mereka tersebar di 3 RW, yakni RW IV dan V (Gadukan), dan VI (Tambak Asri), Morokrembangan, Krembangan, Surabaya. Sekitar 25-30 perajin ada di RW 4, 30 perajin di RW 5, dan sekitar 6 perajin ada di RW 6.

julajuli.com

Produk tas mereka bermacam-macam, antara lain tas fashion, tas wanita, tas laptop, tas sekolah, tas untuk pelatihan atau seminar, dan beragam jenis tas sesuai pesanan. Yugi Sugianto, perajin yang tinggal di Jl Gadukan Baru I/ 219 A, Kel. Morokrembangan, Kec. Krembangan Surabaya, lebih memilih memproduksi tas wanita. Menurutnya, tas wanita lebih banyak modelnya, lebih besar pasarnya, dan sangat terbuka untuk kreasi model sendiri. Kreasi model itu, lanjutnya, lebih banyak menyesuaikan pertimbangan pemilik toko langganan, juga dari internet, dan pecah model sendiri.

Tas buatan Yugi dipatok harga antara Rp 25.000,00 sampai Rp 40.000,00, sesuai ukuran, model, dan kerumitan pembuatan. Harga dasar itu akan berbeda ketika sudah dijual di toko-toko langganannya. Setidaknya ada 3 toko di Surabaya yang menjual tas buatannya. Jumlah toko itu jauh berkurang dibanding dulu.

Dulu, ia pernah dibantu pekerja hingga 10 orang lebih. Ia bisa berproduksi hingga 50 lusin per bulan. ”Dulu, daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan fashion cukup baik. Namun sejak 2015, pembelian masyarakat terhadap tas menurun. Produksi kita juga menurun,” ungkapnya.

julajuli.com

Untuk memenuhi permintaan pasar, Yugi kini hanya dibantu 3 pekerja. Repeat order dari toko langganannya, ia bisa memenuhi sekitar 4 lusin setiap dua minggu sekali. Ia berharap kondisi perekonomian masyarakat membaik, sehingga daya belinya juga membaik dan bisa memenuhi kebutuhan penampilannya seperti dulu.

Bila dihitung dengan teliti, tentu ada banyak produk tas yang diproduksi warga Gadukan dan Tambak Asri. Namun, semua produk tas bermacam jenis itu bisa Anda temui langsung di rumah masing-masing perajin. Belum ada toko atau showroom bersama untuk mendisplay produk. ”Kami sedang mengusulkan keberadaan tempat khusus untuk memajang barang kita bersama-sama anggota koperasi,” kata Yugi, yang juga ketua koperasi.

Toko atau showroom itu dianggap penting sebagai representasi sekaligus sentra agar bisa dikunjungi dengan mudah oleh wisatawan. ”Inginnya kan kampung kita bisa menjadi satu paket wisata dengan obyek wisata lainnya di sisi utara Surabaya,” cetusnya.