Ada banyak kisah yang diungkapkan, yang direkam turun-temurun dari jaman nenek moyang. Kisah itu tentu menambah khazanah kekayaan kota yang menarik, melengkapi sejarah akademisnya yang keberadaannya entah dimana. Atau bila belum terhimpun, kisah dan cerita dari warga bisa menjadi bahan otentik untuk penyusunan sejarahnya.

Cerita yang berkembang di kalangan warga Ketandan itu bisa ditelusuri dari jejak fisik yang bisa ditemui langsung di kampung ini. Bahkan, Sandy Pramono, wakil RT 2 yang akrab dipanggil Memet, siap mengantar Anda berkeliling menunjukkan bukti orisinalnya.

Kita akan ditunjukkan bentuk arsitektur jengki, yang merupakan arsitektur khas rumah Surabaya. Ada arsitektur asli yeng menghiasi masjid An Nur. Dulu, katanya, sebelum akhirnya menjadi masjid, adalah sebuah langgar yang dibangun pada 1914, seperti yang tertulis di atas pintu masjid.

Melihat bentuk bangunan ini, akan teringat bangunan lama dengan gaya arsitektur yang khas. Bangunan ini dihiasi pilar-pilar berukuran besar dan kokoh mengapit pintu masuk. Di kanan kirinya juga terdapat jendela yang besar berhias teralis besi dengan diameter yang cukup besar. Masjid ini mengalami beberapa perubahan, tetapi keasliannya masih bisa dilihat di beberapa bagian. 

julajuli.com

Selain itu, bila Anda tahu, produser film dan sinetron Ram Punjabi, pernah tinggal di kampung ini. Dan, rumahnya tetap seperti semula, tidak berubah bentuknya.

Bila lanjut berkeliling, kita akan menjumpai rumah wayang. Dulu, rumah lawas itu dihuni oleh pemiliknya yang amat gandrung dengan wayang. Koleksinya banyak. Tapi sebagian sudah disumbangkan ke Museum Surabaya, sehingga sekarang tersisa sedikit di rumah wayang.

Kita juga akan ditunjukkan keberadaan punden Mbah Buyut Tondo plus pohon beringin yang bercokol di situ sejak ratusan tahun lalu. Makam ini letaknya persis di tengah-tengah kampung. Siapa Mbah Buyut Tondo, masih berselimut tanda tanya. Tapi bila punden itu dianggap keramat, boleh jadi Buyut Tondo adalah tokoh yang babad alas Ketandan. Mungkin saja ia pejabat kraton di masa lalu.

Ada pula versi yang menyebut Buyut Tondo merupakan sesorang alim ulama bernama Syech Abdurrachman yang diserahi tugas untuk menyebarkan agama Islam di daerah Surabaya Pusat hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di Ketandan bersama istrinya.

Masih ada banyak spot lainnya yang masuk dalam daftar obyek wisata. Semua sudah tersedia, tinggal merawat dan menegaskannya satu per satu sebagai bagian dari spot wisata yang benar-benar layak disajikan kepada wisatawan.

julajuli.com

Mungkin ada yang belum tahu di mana Kampung Ketandan berada. Karena memang posisi kampung ini berada diantara gedung-gedung yang berjajar di sepanjang Jl. Tunjungan, sehingga tak terlihat.

Tapi kita bisa merunut Jl. Tunjungan sisi Barat dan kemudian dintara toko-toko yang sudah tutup itu kita akan menemukan toko Lalwani atau Toko Isardas, yang dulu sangat populer. Tepat disamping toko ini kita akan menemukan jalan yang lebarnya tidak lebih dari 3 meter menjorok masuk ke Barat. Melewati gang kecil itulah kita akan menemukan kampung Ketandan.

Kampung lawas ini merupakan salah satu RW dari 11 RW yang ada di Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng, Surabaya. Letak kampung ini berada di daerah yang terkenal dengan sebutan Segi Empat Mas; yaitu diantara Jl. Tunjungan sebelah Timur, Jl. Embong Malang sebelah Selatan, Jl. Blauran sebelah Barat dan Jl. Praban sebelah Utara.