Melengkapi identitasnya sebagai kota pahlawan, Surabaya terus menggali sejumlah peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kota ini. Bukan hanya kejadian tapi juga rumah atau bangunan peninggalan yang pernah disinggahi oleh para pahlawan bangsa. Salah satunya adalah rumah wafat Wage Rudolf Soepratman yang ada di kawasan Surabaya Utara ini.

Rumah di Jalan Mangga nomer 21 ini ditempati oleh WR Soepratman tidak lama, hanya sekitar setahun saja, yaitu pada tahun 1937 sampai 1938. Rumah tusuk sate ini adalah milik kakak pertamanya, Roekiyem yang ditempatinya bersama suami dan anaknya.

Berada di kota Surabaya bagi Soepratman merupakan akhir perjuangan dan baktinya untuk bangsa Indonesia. Sakit yang dideritanya terus menggerogoti dari dalam. Dengan penuh kesabaran, pengarang lagu Indonesia Raya ini melalui masa-masa sepinya disini hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Agustus 1938.

julajuli.com

Tak banyak peristiwa sejarah terjadi di rumah ini hingga Sang Maestro menutup hayatnya. Pada tanggal 7 Agustus 1938, ia memimpin anggota pandu KBI menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul Matahari Terbit yang disiarkan langsung oleh Radio Nirom di Surabaya. Hal ini mengundang kemarahan kolonial Belanda pada waktu itu dan menjebloskannya ke dalam Penjara Kalisoso. Namun hal ini tak berlangsung lama, mengingat kondisi pahlawan yang tanggal lahirnya ditetapkan sebagai hari musik nasional ini kian memburuk hingga akhirnya ia dipulangkan ke rumah berukuran 5 x 10 meter itu.

Meskipun rumah sederhana bercat dinding kuning ini hanya disinggahi sebentar oleh Sang Pahlawan, tetap saja ada banyak pengalaman berharga yang bisa Anda bawa pulang. Di sini ada benda peninggalan otentik yaitu dua kursi dan satu dipan yang didatangkan langsung dari rumah kelahirannya yang ada di Purworejo, Jawa Tengah. Struktur bangunan juga masih dipertahankan sesuai aslinya, juga lantai traso yang lawas berwarna abu-abu.

julajuli.com

Selain itu ada juga replika patung WR Soepratman sedang memainkan biola di bagian depan rumah, manekin saat sedang mengenakan pakaian berwarna putih di kongres pemuda dan sebuah biola. Rekam jejak perjalanan WR Soepratman mulai dari kelahiran hingga wafatnya terpajang di sepanjang dinding rumah. Begitu pula beberapa piagam dan foto semasa hidupnya. Rumah Wafat WR Soepratman ini buka tiap Hari Selasa sampai Hari Minggu dari pukul 09.00 hingga 17.00.