Dulu, seni sulam identik dengan kesan lama dan selalu dikaitkan dengan dunia para orang tua. Dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang saja dan tidak berkembang ke arah usaha. Namun siapa sangka, baru-baru ini para perajin seni sulam berasal dari mereka yang masih muda. Dengan tampilan lebih inovatif dan kreatif serta desain yang lebih luwes, seni sulam mulai mendapat tempat di pasaran anak muda. Itulah kiranya yang membawa Maya Monica, penyulam yang mengkhususkan diri pada wall decoration mampu mengembangkan keterampilan tangannya ke ranah usaha.

Bermula dari bakat yang diturunkan sang nenek, wanita yang akrab disapa Monica ini mampu merubah kegiatan mengisi waktu luangnya dengan membuat produk ekonomi kreatif. Meski terbilang anyar, baru 2017 ia merintis usahanya ini. Dalam keseharian, ia memang selalu merajut untuk koleksi pribadi. Kala mengenakan hasil sulamannya, tidak jarang ia ditanya, “Barang ini beli dimana? Buka order tidak?” dan pertanyaan sejenisnya. Dari sanalah ia terinspirasi untuk melebarkan sayapnya. Memilih untuk fokus pada usaha merajutnya, wanita berparas manis ini mantap untuk berhenti dari pekerjaan yang dilakoninya.

Menyulam hiasan dinding, sarung bantal cantik, jaket, kemeja, semua dilakoni Monica dengan dukungan sang ibunda. Kendati pernah ditentang ayahnya, semua itu dijawabnya dengan keuletan dalam menyulam, alhasil produk kreatifnya banyak dilirik pasaran. “Namanya menyulam jelas butuh ketelitian dan ketelatenan. Hasil tangan jelas berbeda dengan hasil mesin. Masing-masing produk juga pasti ada peminatnya sendiri”,  tutur wanita kelahiran Mojokerto itu.

julajuli.com

Harus mengikuti tren fashion yang sedang booming jadi tantangan sekaligus kenikmatan bagi Monica dalam menjalankan bisnisnya. Misalnya, beberapa tahun ke belakang dunia mode sedang menganut konsep monokrom. Tak lama kemudian konsep tabrak warna melejit, menggantikan monokrom yang sempat booming.

Dalam menjalankan usahanya, alumnus ITS ini mengaku tantangan lainnya muncul ketika ada pesanan desain dari pelanggan, semisal logo, kartun, karakter. Meski terbilang sulit, ia tidak pernah menolak. Menurutnya permintaan desain pelanggan akan menjadi tantangan baru untuknya. “Yang sulit itu ketika saya diberi desain lalu diminta menyulam. Kalau gitu kan saya hanya meniru, sedangkan saya punya karakter desain sendiri. Tapi dari permintaan itu saya jadikan sebagai tantangan. Dengan tetap menekankan pada kualitas, ternyata saya bisa. Paling sulit itu pas diminta nyulam logo Liverpool, butuh kedetailan lebih, revisi berkali-kali,” beber sarjana Arsitektur itu.

Bahan baku terbaik ia pilih untuk menghasilkan karya sulam terbaik pula. Benang yang dipilih adalah jenis DMC yang katanya mampu membuat kreasi sulaman menjadi nyaris tak terbatas karena anti air dan warnanya tahan lama.

julajuli.com

Wanita kelahiran ’93 ini benar-benar menekankan pada kualitas. Tidak heran, sarung bantal handmade Monica pernah dipesan oleh pelanggan dari pelosok Maluku. “Yang banyak di pesanan itu sarung bantal. Sekarang kan jamannya gitu, cari kado yang unik dan menarik. Buat wisuda, ulang tahun, pernikahan. Kebanyakan muda-mudi sih yang tertarik,” terang wanita yang hobi menggambar itu.

Berlebel Hoopies Art handmade Monica hanya dipasarkan via online saja melalui instagram @hoopiesart. Sejauh ini Hoopies Art masih diproduksi dalam skala kecil karena proses produksinya memang menunggu ada pesanan baru dikerjakan. Dalam seminggu ia bisa menyelesaikan sampai lima pesanan. Untuk harga, Hoopies Art dibanderol harga mulai dari Rp 150.000,00.

Berbicara kedetailan dan ketelitian dalam seni menyulam, harga handmade Monica terbilang miring. Jika menelisik pada ruang lingkup pengembangan produk kreatif, apa yang dilakukan Monica adalah hal-hal yang mencakup upaya untuk mengembangkan suatu produk demi menarik perhatian konsumen. Hal ini bisa dilakoni oleh siapa saja, tipsnya bisa ditiru para pebisnis demi melengkapi kancah ekonomi kreatif.