Mungkin sudah menjadi nasib segala yang berbau tradisi, lambat laun tersingkir dari tanah kelahirannya sendiri. Jika pun muncul, sesekali hanya pada momentum perayaan. Sisanya hanya terendap dalam memori dan susah muncul dalam perbincangan. Tak menarik, usang, dan kalah keren dibanding tema kekinian. Tapi Sukma Trilaksasih, warga kampung Rungkut Permai Surabaya, tak mau larut dalam keprihatinan berkepanjangan. Betapa boneka yang merangsek tanah air yang lebih cenderung membawa budaya asing lebih digemari. Mengapa tidak membuat tandingannya, yang lebih bernafaskan kepedulian terhadap tradisi nusantara?

Dari titik inilah Sukma mencari ide dan kreasi. Alhasil, bermacam jenis dan bentuk boneka yang membanjiri tanah air, dimodifikasi dan diberi busana yang mencitrakan budaya adiluhung bangsa. Boneka itu diberi baju adat nusantara dan dimakeup sesuai tradisi dan adat dari seluruh daerah di Indonesia. “Saya prihatin menyaksikan anak-anak lebih menyukai boneka Barbie yang bergaun seksi a la barat. Atau boneka karakter cewek yang memakai baju terbuka, dan semacamnya. Bukankah itu kurang mendidik,” sergahnya.

Di usianya yang tak lagi muda, Sukma bertekad untuk mewujudkan cita-cita luhur itu. Walau semula ia hanya sendiri. Di sela waktu luangnya sebagai pegawai, ia memoles boneka yang ada menjadi pasangan busana adat nusantara. Setelah terbentuk, boneka adat itu dipajang di tempat kerjanya. Ada pula yang dihadiahkan sebagai sovenir kepada tamu kantornya. Saat itu, jelasnya, sama sekali ia tidak memperhitungkan untung rugi. Boneka yang berhasil dibuat, diberikan begitu saja kepada kawan dan handai tolan. Tak disangka, kreatifitasnya membentuk boneka yang bernilai adat tradisi itu menarik perhatian. Bonekanya diminati, dibeli, dan dijadikan sovenir oleh teman dan kenalannya.

julajuli.com

Sejak itu, kepercayaan diri Sukma makin terbentuk. Kemampuannya memodifikasi boneka berusaha ia tularkan kepada ibu-ibu di kampungnya. Ia ingin, semangat yang sama untuk melestarikan tradisi lewat kreasi boneka ini bisa menular ke masyarakat luas. Namun, semangat itu tak serta merta bertepuk dua tangan. Begitulah ide yang datang dari sesama warga kampung. Gagasan yang muncul kerap mendapat apresiasi bagus, tapi hanya sesaat. Langkah berikutnya, si empunya ide yang harus telaten mewujudkan gagasannya hingga berbentuk dan menghasilkan secara ekonomi di kemudian hari.

Sukma juga didera cerita yang sama. Hanya tekad dan keuletannya yang membuahkan hasil seperti sekarang. Kreatifitas? Ia justru banyak mendapat inspirasi dari para pemesan. Sejak menekuni kreasi boneka adat nusantara ini sebagai usaha pada 2011, pesanan terus berdatangan. Kreatifitasnya pun terpacu terus-menerus. Bersama beberapa warga yang turut membantunya, Sukma tak henti mengembangkan keahlian dalam mengkreasikan boneka sesuai keinginan pelanggan. Idealisme yang diinginkannya; produk buatannya dibuat sedetil dan semirip mungkin sebagaimana aslinya.

Untungnya, kerajinan seni yang banyak melibatkan olah rasa dan imajinasi semacam itu pun telah ditularkan kepada warga yang membantunya. Masing-masing orang memiliki spesialisasi, mulai dari pengoprek boneka, pemoles make up, penjahit baju, hingga pengemasnya. Ada banyak keahlian yang dibutuhkan, apalagi untuk memperlakukan produk boneka yang berukuran kecil untuk souvenir. Ketelitian menjadi keniscayaan. Tak boleh ada detil yang terlewatkan. Bukan sembarang boneka, tapi harus benar-benar mirip dengan detil yang dipesan pelanggan.

julajuli.com

Deretan produk boneka adat yang terpajang di rak panjangnya, menampilkan hampir semua boneka berbaju adat tradisi nusantara. Mulai dari adat Madura, Jawa, hingga tradisi luar Jawa. Kini, pasangan boneka yang mewakili semua adat nusantara itu, kini sudah dikemas dalam kotak acrilic dalam berbagai ukuran. Dulu, kenangnya, boneka itu dikemas sederhana menggunakan mika tipis, baik dalam bentuk bulat atau kotak. Setelah mendapat ilmu tentang kemasan, plastik mika itu pun ditinggalkan dan diganti dengan acrilic.

Dan diantara deretan boneka adat nusantara itu, ada pula boneka imlek dengan ciri khas baju adat china. Diakui, menjelang momentum perayaan imlek, ia kerap mendapat pesanan boneka imlek dari warga etnis Tionghoa sebagai souvenir. Seperti menggarap pesanan baju adat nusantara, Sukma selalu menggunakan kain asli dari daerah. Tak peduli hanya untuk membuat satu pasang boneka, ia tetap mendatangkan kain asli dari daerah tersebut buat baju boneka.

“Saya bukan sekadar memoles boneka. Saya benar-benar menyuguhkan produk boneka adat sebagaimana aslinya,” tegasnya. Begitu pulalah yang diterapkan ketika mengerjakan pesanan boneka imlek. Baju yang digunakan asli sebagaimana warga etnis Tionghoa memakainya saat perayaan. Bahkan pun bila sang pemesan menginginkan semirip dirinya, Sukma berusaha mewujudkannya.

“Mungkin pemesannya berkumis, ada tahi lalat, rambut disemir, dan menghendaki gaya tertentu, kita buatkan semirip mungkin seperti yang diinginkan,” ia menjanjikan. Karena itulah, tak heran bila produk bonekanya banyak diapresiasi oleh masyarakat secara luas. Calon pengantin dari berbagai daerah memesan bonekanya sebagai souvenir. Para calon wisudawan juga memesannya, baik sebagai kado untuk kampusnya maupun untuk koleksi, dan masih banyak konsumen lainnya yang memesan padanya.

Harga produk boneka itu dipatok dengan harga, mulai Rp 80 ribu untuk ukuran kecil. Pemesanan biasanya dilakukan pelanggan melalui kanal whatsapp (085648503658), instagram @nusantara boneka, atau email sukma3@gmail.com. Atau datang langsung di rumah produksinya, di Jl. Rungkut Permai II Blok C11 Surabaya.