Kacamata selain berguna untuk melindungi mata dari sinar matahari, juga sebagai bagian dari penunjang penampilan. Maka tak heran bila sejumlah brand papan atas pembuat kacamata beradu untuk menciptakan pelindung mata yang nyaman saat digunakan sekaligus stylish. Dulu, tak banyak orang yang melirik potensi kayu dalam berbagai ranah dekoratif. Orang hanya menggunakan kayu sebagai material penyusun rumah yang utama, seperti pada rumah tradisional. Tapi kini? Bukan hanya pada hunian, tapi juga menjalar dalam interior kedai kopi, perkantoran, hingga dekorasi pelaminan. Bahkan dunia fashion tak lepas dari pesonanya.

Bila berbicara soal kerajinan tangan, kayu menjadi bahan utama yang identik dengan berbagai macam produk handmade. Kalau diperhatikan, kerajinan tangan yang terbuat dari kayu biasanya akan lebih mudah diterima di pasaran dan menarik minat banyak orang. Sebut saja lampu gantung, gelang, kalung, maupun miniatur. Belum lagi kesan elegan nan mewah sekaligus vintage yang bisa meningkatkan cita rasa penampilan bagi yang memakainya. Di era yang semakin modern seperti sekarang, banyak para pengrajin yang semakin kreatif dalam mengolah kayu untuk dijadikan kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

julajuli.com

Sie Gede Riezky, salah satu yang bergelut di bidang ini sukses menelurkan beberapa kreasi bernilai seni tinggi. Dibawah label Java Sub, ia berhasil membuat kacamata, jam tangan, cincin, boks rokok, sampai pelindung smartphone yang terbuat dari kayu. Bagi para konsumen, kerajinan tangan dari kayu dianggap memiliki nilai estetika dan keunikannya tersendiri. Sementara bagi para pengrajin, material kayu dipilih karena mudah didapat, terjangkau dan bisa dibentuk sesuai keinginan.

Material kayu juga dipilih karena unsur alamnya yang kuat, ramah lingkungan serta awet meski digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sebut saja jenis kayu yang populer semacam sonokeling, maple, jati, dan mahoni. “Jenis kayu ada banyak, seperti jati, mahoni, tapi masing-masing punya daya tahan yang berbeda. Kalau untuk serat lebih bagus dari jenis sonokeling dan maple”, kata pria yang akrab disapa Riezky ini.

Dalam memproduksi kacamata, Riezky memadukan berbagai jenis kayu limbah yang didaur ulang. Mulai dari sonokeling yang biasanya didapat dari sisa-sisa mebel, lalu kayu maple yang dipakai sebagai bahan baku alat-alat musik dan stik bilyard, hingga mendaur ulang papan skate board. Papan skate board ternyata memiki ketahanan yang cukup kuat. Untuk jenis kayu papan skate, Riezky mengaku mendapat suplai bahan baku dari teman-temannya yang gemar bermain skate board.

julajuli.com

“Temen-temen ngasih limbah, saya menukarkannya dengan karya”, ujarnya. Papan-papan skate yang patah dan tidak terpakai akan ditukarkan dengan sebuah kacamata. Sedangkan pada proses produksi menggunakan sistem press. “Kayu utuh di press biar melengkung dan mudah dibentuk”, tutur Riezky. Sebagai finishing ia memberikan tiga pilihan: dove, semi dove atau glossy.

Sebisa mungkin hasil akhir tidak menghilangkan nuansa kayu di kacamata, karena sekarang banyak produk kacamata dengan aksen kayu tapi bahan dasarnya plastik. Kacamatanya juga mengadopsi sistem knockdown yang mudah dibongkar pasang sehingga Anda bisa bebas mengganti lensa.

Dengan harga jual sekitar Rp. 500.000 sampai Rp. 600.000, kacamata kayu ini bisa dibilang memiliki harga yang setara dengan kacamata brand ternama di pasaran. Sama-sama ringan dan anti air, yang buat berbeda adalah kesan elegan yang diberikan. “Kalau orang pakai kacamata kayu ini kesannya beda aja, anti mainstream gitu”, tutup pria 29 tahun ini ramah.