Makrame adalah seni menyatukan simpul yang terdiri atas satu, dua, tiga, bahkan lebih tali atau benang untuk membuat sebuah karya tangan. Disebut karya tangan, karena memang makrame membutuhkan keterampilan tangan saat menjalin tali-temali. Menurut beberapa sumber, makrame berasal dari Arab di awal abad pertengahan. Para penenun pada abad ini merajut benang dan rami dengan simpul dan ikat menjadi dekorasi yang menarik. Makrame berasal dari kata mikramah yang berarti hiasan tangan atau anyaman.

Di Turki, dikenal dengan nama magrama. Pada awal abad pertengahan ketika bangsa Moor menundukkan Spanyol, seni makrame ikut berkembang di sana dan menyebar secara merata ke Italia dan Eropa serta mulai dikenal di Inggris pada akhir abad 17. Dari semua mata rantai penyebaran makrame, diketahui bila pelautlah yang paling berjasa mengembangkannya. Para pelaut membawa kerajinan tangan ini dalam perjalanan mereka ke berbagai wilayah, mulai daratan Cina sampai ke sejumlah wilayah di dunia.

Di Indonesia sendiri, makrame sudah dikenal cukup lama. Tapi baru melejit dua tahun belakangan. Tak semata-mata mengutamakan asas fungsional, makrame pun juga indah bila digunakan sebagai elemen dekoratif. Seperti yang dilakukan oleh Nadia Maya Ardiani, salah seorang pegiat makrame di Surabaya.

julajuli.com

Maya, begitu wanita ini akrab disapa, mengaku makrame adalah kegiatan menyimpul tali yang paling sekaligus simpel dibandingkan seni menjalin yang lain: menyulam dan merajut. “Kalau merajut harus pakai hakken, menyulam harus pakai jarum, sedangkan makrame hanya memakai tangan”, tuturnya. Tapi jangan dibayangkan makrame sesederhana itu ya City Explorer! Justru menurut Maya, kesederhanaan dalam membuat makrame itulah yang menantang. Meskipun ‘hanya’ berbekal kelihaian tangan, sisi menantangnya ada di kreatifitas dan ketepatan dalam mengukur panjang tali serta menentukan pola agar karya yang dihasilkan tidak mengecewakan.

Untuk membuat makrame, pola sebaiknya ditentukan di awal. “Sebenarnya bisa dirubah di tengah, tapi akan merubah jalin simpul yang sudah dibentuk”, kata wanita berhijab ini. Sedangkan pada pemakaian tali, untuk membuat hasil karya dengan ukuran satu meter, tali yang dibutuhkan bisa 5-7 kalinya. Maya mencontohkan, wall decor berukuran 1 x 1½ meter buatannya bisa memakan tali sepanjang 200 meter. Tergantung kerumitan pola dan ukuran.

Tantangan lainnya adalah harus sabar saat melakukan gerakan-gerakan menyimpul yang sifatnya repetisi. Saat membuat makrame dengan lebar 1 meter, bisa menggunakan sampai 100 kaitan untuk simpul awal. Satu kaitannya berisi dua tali. Mula-mula, tali diuntai membentuk simpul mati diatas sebuah papan yang berfungsi sebagai sebagai gantungan. Simpul-simpul dijalin ke bawah hingga mendapat pola yang diinginkan.

Dalam proses pembuatan makrame, dikenal ada teknik dasar. Teknik dasar ini merupakan simpul yang mudah dilakukan untuk setiap karya makrame. Saat menyimpulkan tali pada awal pembuatan makrame dikenal ada beberapa simpul dasar, diantaranya simpul jangkar, pangkal, baling-baling, laso, dan tiang. Tidak dikenal pola baku atau hitungan yang menyulitkan dalam membuat makrame, karena semua tergantung pada hasil yang diinginkan. Dalam satu karya buatan Maya, ia bisa memadukan sampai 16 simpul yang berbeda bahkan lebih.

julajuli.com

Penggunaan tali untuk makrame disesuaikan dengan karya yang akan dibuat, pada umumnya dipilih tali yang berasal dari bahan yang lembut, kuat, dan tidak terlalu elastis. Beberapa jenis tali yang umum digunakan untuk merajut makrame adalah tali katun, tali kur, tali linen, tali acrylic, tali jute, dan tali nylon. Tapi yang umum digunakan adalah tali kur yang lebih mudah ditemukan, dibentuk, dan harganya terjangkau. “Bisa juga pakai tali katun untuk hasil yang lebih premium, hanya saja sementara ini suppliernya masih susah didapat. Saya baru menemukan satu penyuplai tali katun yang ada di Jakarta”, beber wanita yang membuka bisnis makrame melalui brand Kembangapi Macramé & Some ini.

Untuk menghasilkan sebuah karya makrame berukuran 1 meter, dibutuhkan waktu 2 hingga 3 hari. Lagi-lagi tergantung pada pola dan ukuran. Makin kecil dan mudah, makin sedikit waktu yang dibutuhkan. Sedangkan untuk harga, juga bervariasi. Mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Makin besar dan rumit, makin besar rupiah yang harus dikocek. Maklum saja, seni yang satu ini tak berbeda dengan kerajinan tangan lain yang dikerjakan secara handmade. Butuh ketelatenan dan kesabaran khusus dibalik tiap jalinan simpulnya.

Penggunaan makrame saat ini sudah menjajah berbagai lini, seperti digunakan sebagai wall decor, gantungan pot, sampai hammock. Beberapa acara pernikahan juga menggunakan makrame sebagai latar belakang. Sebenarnya makrame cocok digunakan dalam situasi apa saja, tapi akan nampak lebih padu bila menyatu dengan konsep hippies maupun vintage yang instagramable.