Masih ingat Kampung Tas Gadukan, Morokrembangan? Bila tidak ingat, kita telah disindir oleh parikan yang tergores di dinding rumah di ujung gang kampung ini :

Sambel tempe lalap pete,Lali rupane eleng rasane

Ya. Kampung Gadukan Baru, Morokrembangan, Surabaya kini bertambah julukan sebagai Kampung Parikan Suroboyo. Kampung yang berada di RW 04, khususnya yang berderet di sepanjang bozem dihias cantik warna-warni plus goresan mural dan parikan. Sejak di mulut gang masuk kampung, kita sudah disuguhi berbagai parikan yang jenaka dan menggemaskan. Dinding rumah-rumah warga sebelumnya sudah dicat warna-warni nan cantik. Dinding rumah-rumah itu kemudian dihiasi berbagai bentuk, mulai dari tokoh seniman serta parikan.

Tokoh seniman yang tampak terlukis antara lain Cak Bambang Gentolet, Cak Markeso, Cak Momon, dan Cak Kartolo. Lukisan para tokoh seniman ludruk legendaris itu berpadu dengan ragam parikan yang unik dan lucu. Lebih dari 15 parikan menghias dinding-dinding rumah kampung ini. “Saya membayangkan Kampung Gadukan ini seperti kampung Willemstad Curacao di Karibia Selatan. Dua kampung ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama berada di dekat perairan. Jika kampung Gadukan berada di tepi waduk Bozem Morokrembangan, kampung Willemstad berada di tepi laut Karibia yang cantik,” papar Erwin Poedjiono Tirtosari, Ketua Tim Kreatif Kampung Parikan.

Rencananya, ungkap aktifis Hotline Surabaya ini, jumlah parikan yang ada sekarang masih akan bertambah lagi. Sebagaimana rumah yang dihias warna-warni juga akan bertambah hingga lebih kurang 150 rumah. “Sekarang masih separo, sekitar 75 rumah yang disulap warna-warni,” katanya.

julajuli.com

Kampung Gadukan Baru, Morokrembangan, dipilih sebagai kampung budaya tak lepas antara lain karena belum adanya kampung di Surabaya yang menunjukkan karakter khas kota Arek. Boleh jadi inilah kampung pertama yang bernuansakan kebudayaan khas di Surabaya. Alasan lain boleh jadi karena adanya seniman ludruk Suyadi, yang menjadi warga kampung ini. Bila ada senimannya, Erwin menegaskan, menjadikan kampung parikan ini menjadi oase kesenian akan lebih mudah dicapai. Kampung parikan nantinya akan dipenuhi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kesenian tradisi khas Surabaya.

Tak menutup kemungkinan, ia menambahkan, kampung ini akan menjadi semacam sanggar atau galeri kesenian yang mewadahi beragam seni, terutama seni tradisi yang semakin tidak diakrabi oleh kaum muda masa kini. “Anak-anak dan remaja kampung ini belum tentu kenal dengan para tokoh seniman ludruk yang digambar mural di tembok rumah mereka. Mereka juga mungkin tidak banyak yang mengerti apa itu parikan dan bagaimana membuatnya,” ungkapnya.

Tipografi parikan yang sudah terpampang di kampung itu , harapnya, akan menginspirasi warga kampung untuk lebih mengenali dan semakin mencintai tradisi kesenian khasnya. Bila warga kampung sudah mencintai seni tradisi serta memiliki kegiatan kesenian secara periodik, harapan kampung ini menjadi destinasi wisata akan terwujud. Pada tahap awal pembentukan Kampung Parikan ini mendapat dukungan dari Hotline Surabaya, pabrik cat Avia Avian, komunitas mural, bersama partisipasi aktif warga kampung.

Bila kampung ini hidup dengan berbagai kegiatan seni yang menyertai, nantinya dukungan akan berdatangan dengan sendirinya. “Pemerintah kota Surabaya akan memfasilitasi, perusahaan yang peduli kelestarian seni juga akan menggelontorkan dana CSR-nya ke kampung parikan ini,” jelasnya.

julajuli.com

Kampung Parikan Suroboyo ini telah diresmikan pada 1 Maret 2018. Mau tidak mau kampung ini harus terus bergerak menuju impian yang diharapkan. Bila menginginkan sebagai destinasi wisata, partisipasi aktif warga harus senantiasa digiatkan untuk terus membangun kampung. Mochamad Yusuf S ThI, Ketua RT 06, setidaknya sudah menyiapkan rancangan gagasan untuk menuju Kampung Parikan sebagai destinasi wisata. Berbagai perbaikan sudah dimulai sejak jauh hari sebelum acara peresmian. Pemandangan dari sisi bozem diperbaiki. Nyaris tak ada sampah berserakan sebagaimana kerap kita jumpai di rumah-rumah sisi kali.

Bersama pemuda Karang Taruna sudah menyiapkan semacam café sebagai pusat kegiatan. Di café ini berbagai gagasan digodok, didiskusikan, dan direalisasikan. Café itu juga, tuturnya, digunakan sebagai wahana belajar bisnis bagi para muda. “Mereka yang mengelola dan mengembangkannya,” katanya. Selain memoles pedagang kuliner yang ada di sepanjang bozem, seperti warung mie ayam, warus kopi giras, dan sebagainya, ia juga berharap warung apung di bozem bisa diwujudkan. Ceritanya, sejak beberapa tahun silam, sudah dibangun geladak yang menghubungkan sisi kampung dengan warung apung di atas danau bozem.

“Entah mengapa kok tidak diteruskan. Eman kayu-kayunya sampai rusak,” cetusnya. Kampung tas gadukan yang sudah lebih dulu dikenal juga akan menjadi spot penting untuk kunjungan wisatawan. Mereka, katanya, sudah lebih siap karena sudah eksis sejak bertahun-tahun lalu. “Kampung tas tentu menjadi kekayaan tersendiri bila kampung ini benar-benar menjadi destinasi kunjungan wisata alternatif di Surabaya,” ungkapnya.

Panggung acara yang digunakan saat peresmian Kampung Parikan bernuansa manunggaling dwi budoyo, katanya, juga akan dipoles. “Biar ada panggung permanen untuk berbagai kegiatan, baik latihan kesenian maupun berbagai acara seremonial lainnya,” tegasnya.

Tuku celono nang cak Bowo, Tukune tekan Persia

Sing rukun Cino karo Jowo, Kerono kito Indonesia…

 ----------------------------------------------------------------

Golek banyu tekan Jerman

Ora kudu ayu sing penting nyaman…