Bermula dari kebutuhan keluarga yang kian menghimpit, Wulan Setyasih, wanita asal Jambangan Surabaya itu memberanikan diri untuk banting setir menjadi seorang pengrajin. Tekad diri agar bisa menghidupi sang buah hati dengan cita-cita ingin menyekolahlahkan kedua putrinya hingga lulus perguruan tinggi, menjadi motivasi tersendiri bagi ibu single parent ini.

Tekad membara itulah yang mengantarkannya bertemu dengan teman dan sekaligus peluang. Pada tahun 2010, bersama seorang teman ia diajak ikut aktif dalam beragam pelatihan yang difasilitasi Pemerintah Kota Surabaya. Semula ia memilih untuk memproduksi aksesoris manik-manik seperti yang biasa dibuat hiasan jilbab para muslimah. Namun, menekuni produksi manik-manik itu tidaklah berlangsung lama. Pada tahun 2012, Wulan meninggalkan aksesoris manik-manik dan beralih fokus ke pengembangan produk kerajinan souvenir khas Kota Pahlawan.

“Awalnya manik-manik. Tapi kata mentor saya, di Surabaya itu sudah banyak yang memproduksi aksesoris. Lah pas tahun 2012 saya mendapat tantangan dari Ibu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk membuat souvenir khas Kota Pahlawan,” kenangnya.

julajuli.com

Tantangan itu ternyata semakin memacu semangat Wulan untuk terus mengepakkan sayap kerajinannya. Hingga kini, Wulan telah memproduksi lebih dari 6 ribu souvenir setiap tahunnya. Mulai dari gantungan kunci sampai pin bergambar icon-icon khas Kota Surabaya. Produk souvenirnya diberi label Chawati Collection.

Ia mengaku, souvenir produksi Chawati Collection, sering dipesan Tri Rismaharini untuk oleh-oleh khas Surabaya. “Sebenarnya saya ngga bisa bikin souvenir gitu. Tapi pas dapat saran dari Ibu Walikota Surabaya, saya kok tertantang. Jadi deh. Awal-awalnya produksi sambil belajar,” ungkap penerima penghargaan Pahlawan Ekonomi Surabaya 2012 untuk kategori Industri Kreatif itu.

Tak hanya itu, karena ketekunan dan produknya yang diterima baik oleh pasar, mengantarkan idenya untuk membuat lukisan pada baju, jilbab, dan tas untuk perempuan. Bahkan seni lukisnya sudah diaplikasikan ke batik kain sutra juga. “Kebanyakan sih model hewan-hewan gitu, ada kupu-kupu, burung merak, ada juga suro dan boyo,” terangnya.

julajuli.com

Ditanya soal bagaimana ia memasarkan produknya selama ini, wanita berkulit sawo matang itu mengatakan, sejauh ini hanya menitipkan produknya di sentra-sentra UKM milik Pemkot Surabaya. “Saya memang belum aktif memasarkan via online. Tapi gantungan kunci Chawati Collection merupakan produk paling banyak dipesan. Selalu nambah stok. Dan sekarang ini, saya sedang mengerjakan pesanan batik lukis sutra sebanyak 400 kain,” bebernya.

Ia mengaku, untuk mengerjakan produk Chawati Collection, terlebih batik lukis, ia belum bisa menerima reseller sebagai perluasan rantai pemasarannya. Karena produknya, diakui, membutuhkan pengerjaan dengan tingkat ketelatenan lebih.

“Di Rumah Batik di kawasan Putat Jaya milik Pemkot Surabaya, saya bersama 20 warga sekitar yang garap. Itupun belum semuanya bisa mbatik. Jadi kita harus belajar sambil latihan mbatik dulu. Makanya saya belum buka reseller untuk batik lukis kain sutra,” tukas penerima penghargaan Karya Cipta Adi Nugraha dari Disperindag Surabaya dan Jawa Timur itu.