Sajian olahan kambing mayoritas berasal dari negara-negara di Timur Tengah. Namun di Indonesia, kuliner satu ini tidak kalah memikat. Terbukti dari banyaknya depot dan rumah makan penyedia menu kambing, khususnya Surabaya. Masakan kambing mudah dijumpai mulai dari pelosok hingga jantung kota. Beberapa bagian dari hewan kambing dapat disulap menjadi hidangan yang lezat. Mulai dari daging hingga jeroannya.

Daging kambing seringkali dihindari karena kandungan kolesterolnya. Namun, jika Anda membatasi kuantitas santapan kambing, kolesterol tidak datang menyerang. Jika pandai mengolahnya, rasa anyir yang melekat pada daging kambing tidak akan terasa. Hanya rasa sedap yang akan meresap di lidah Anda. Berikut beberapa sajian kambing favorit warga Surabaya yang berhasil kami kumpulkan.

julajuli.com

1. Depot Yaman

Depot Yaman di kawasan wisata religi ampel dapat memanjakan lidah Anda pecinta masakan kambing. Jika ingin makan masakan kambing yang berbeda dari yang lain, datanglah ke Depot Yaman Kuliner. Depot di Jl. KH Mas Mansyur ini menjual kambing oven jumbo sebagai menu andalan. Berdiri sejak tahun 2002 dengan menu awal kambing oven original lalu mengembangkan berbagai rasa seperti lada hitam, madu, dan rica-rica. Lokasi depot menepati salah satu ruko di hotel Kemajuan.

Kambing oven jumbo seberat 500gram/porsi diambil dari bagian paha. Sementara bagian lain dari hanya sebagai pelengkap hidangan saja. “Awalnya saya hanya jual kambing oven jumbo orisinal, tapi lama-lama saya tambah rasanya jadi lebih banyak. Ada lada hitam, madu, dan rica-rica”, jelas Umi Sundus, pemilik Depot Yaman. Setiap hari, kambing yang dipotong adalah kambing muda ukuran sedang. Satu ekor bisa diambil dagingnya seberat 5-6kg (bersih, tidak termasuk kepala, kaki, jeroan). Mereka menggunakan daging yang lebih empuk tidak berlemak, serta dipilih yang seratnya masih halus.

Berbicara tentang bumbu, kambing oven dibuat dengan rempah-rempah pilihan. Bermacam-macam bumbu dibalurkan ke daging kambing lalu dimasak di oven sampai matang. Menu kambing oven disajikan di atas hot plate atau piring panas untuk menjaga suhu oven yang fresh. Begitu diiris, daging kambingnya sangat juicy dan empuk namun gurihnya tetap terasa. Disajikan bersama bumbu kacang plus kecap beserta potongan bawang merah dan lombok. Rasa rempahnya sangat lembut dan gurih di mulut. Cocok jika disantap bersama nasi yang miliki aroma rempah lebih kuat seperti kebuli atau briani. Harganya cukup terjangkau untuk menu berukuran jumbo. Dengan Rp 80.000 – Rp 85.000 saja, seporsi kambing oven jumbo bisa dinikmati 3-4 orang. Harga tersebut belum termasuk nasi kebuli atau briyani.

julajuli.com

2. Sate Buntal Depot Karmen 29

Jika Anda sudah bosan dengan sebagian olahan kambing di Kota Pahlawan, saatnya Anda melirik sate buntal di jalan Karang Menjangan. Nama warungnya sederhana, Depot Karmen 29. Posisinya tidak jauh dari persimpangan dan nampak jelas di kiri jalan. Bagi penikmat kuliner kambing, rasanya benar-benar membuat ketagihan. Satu porsi sate, hanya berisi dua tusuk. Tapi, ukuran keduanya besar-besar. Dinamai sate buntal, karena masing-masing tusuk sate berisi daging kambing sekitar 1 ons dan dibuntal dengan lemak kambing. Setelah dicelupkan rempah resep khusus, sate dibakar hingga matang dan siap dihidangkan dengan taburan lada serta saos kecap layaknya sate lainnya.

Olahan sate ini bukan berasal dari Surabaya, tapi diwariskan turun temurun dari Solo. Sekarang, resepnya sudah dipegang oleh generasi ketiga, yang memilih meramaikan referensi kuliner di Surabaya. "Kami jualan sejak 1987, cabang dari depot Hj. Bedjo Lohjiwetan Solo, mertua saya", kata Khusnul (50), pemiliknya

Khusnul bercerita, tiap hari, dirinya memilih kiriman kambing yang datang dengan seksama. "Selektif Mas. Kami pilih yang gemuk, muda dan tentu sehat", katanya. Hal tersebut tentu untuk menjaga kualitas dan demi menyajikan rasa terbaik dari sate buntal buatannya. Setelah disembelih di rumah potong hewan, daging kambing dicacah, dikepal-kepal, ditusuk lalu dibungkus lemak, sebelum akhirnya dibakar.

Depot Karmen 29 ini selalu ramai saat makan siang hari kerja. Meskipun dengan hanya 5 karyawan, kecepatan dalam menyajikan hidangan sangat baik. "Sekarang punya karyawan Mas. Dulu, kami memulainya dengan rombong kaki lima di situ", seloroh Khusnul sambil menunjuk ke arah luar simpang tiga Karang Menjangan.

julajuli.com

3. Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi

Terletak di jalan Simolawang, warung tenda bongkar muat ini menempati lahan, tepat di depan pagar tembok rumah nomer 1. Adalah Abdul Jawat yang memulai membuka warung Kikil Kambing ini pada 1966. Selanjutnya secara temurun, sajian yang semakin diminati ini dikelola anaknya, Haji Subchi mulai tahun 1975. Hingga sekarang, nama Haji Subchi masih digunakan, walaupun sejak 10 tahun terakhir, pengelolanya sudah ditangani oleh Abah Su’eb, yang tidak lain adalah adik kandung dari Haji Subchi.

“Kita tetap memakai nama Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi, karena nama itu yang sudah terkenal dan dicari sampai saat ini” ungkap Abah Su’eb ditengah sibuknya melayani pembeli yang sampai rela mengantri. Warung pinggir jalan yang sangat sederhana ini hanya terdiri dari tiga meja panjang dengan tak lebih 30 kursi. Tapi setiap saat tak pernah sepi, bahkan banyak yang rela mengantri berdiri demi mencoba seporsi Kikil Kambing.

Porsi kikil kambing ini, secara penampilan kuahnya bening seperti sup yang mengundang kesegaran. Namun sekali seruput saja, kentalnya bumbu sangat terasa aroma karinya. Taburan melimpah daun koja juga menambah selera, dan wanginya semakin menggugah rasa untuk segera menggigit dagingnya.  Untuk menambah kesegarannya, jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis merata diantara kuahnya. Plus sambal bagi yang suka pedas.

Sekarang giliran mencoba dagingnya. Penampilan segarnya kaki kambing masih terjaga tekstur dan bentuk aslinya. Terlihat dagingnya tidak hancur, masih menempel sempurna diantara tulang. Tapi soal keempukannya, jangan lagi ditanya. Sekali sendok sudah bisa terpotong dengan mudah. Rasa kenyalnya semakin gurih karena bumbunya yang meresap sampai ke dalam daging.

“Cara masaknya juga harus diperhatikan agar dagingnya bisa empuk, tapi tetap tidak lepas dari tulangnya.  Dagingnya juga jangan sampai hancur” ujar Abah Su’eb. “Butuh waktu sekitar 3 jam untuk merebus kikil hingga bumbunya meresap” lanjutnya. Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi buka setiap hari dari pukul 18.00 sampai pukul 21.00. “Tapi tidak selalu habis jam segitu, yang sering jam 8 sudah tinggal sedikit” ujar Abah Su’eb. Padahal tiap hari tak kurang 80 ekor kambing diolahnya menjadi sajian istimewa ini. Kikil Kambing ini tidak membuka cabang, jadi kalau ingin merasakan sensai kenyal gurihnya, ya harus datang langsung ke Jalan Simolawang.

julajuli.com

4. Warung Bu Hj. Sani

Bagi penggemar kuliner kambing, tentu tahu dengan kare kambing Bu Hj. Sani. Warung yang telah menjual kare kambing sejak 35 tahun yang lalu ini terletak di Jl. Semarang. Namanya tersohor karena resepnya yang turun temurun. Lokasinya mudah dijumpai karena terletak di persimpangan traffic light Pasar Turi. Jika anda menuju Jl. Semarang dari arah Tugu Pahlawan, anda akan langsung menemui warung sepanjang 6m di kiri jalan. Warung Kare Kambing Bu Hj. Sani buka setiap hari mulai jam 9 pagi sampai 5 sore.

Ketika memasuki warung, Anda akan disambut oleh para penjual yang tidak lain adalah anak-anak dari Bu Hj. Sani. Beruntung jika Anda juga dapat bertemu dengan Bu Hj. Sani secara langsung. Di sini Anda dapat memesan porsi kare campur atau kare daging saja. Kare kambing campur terdiri dari daging kambing, ati, paru, dan babat. Dapat pula memilih makan dengan nasi atau lontong. Keduanya bisa dipesan terpisah atau dicampur dengan kare.

Sekilas yang terlihat dalam mangkuk kare kambing hanyalah kuah kare dan daun bawang di atasnya, namun jika diaduk akan terlihat semua lauk hidangan tersebut. Kuah karenya sangat banyak sehingga lauknya ‘tersembunyi’. Daging kambingnya lembut dengan potongan sebesar dadu. Namun tidak perlu khawatir karena dagingnya tidak anyir. Bagi Anda yang tidak suka lauk ‘alot’, paru dan babatnya empuk. Kuahnya tidak terlalu kental namun kaya rasa. Terbukti dari warna keruh yang menandakan macam-macam rempah di dalamnya. Kuah kare sedikit pedas dan bersantan, namun tidak sebanyak santan pada hidangan gule. Selain itu, hidangan kare kambing selalu dalam keadaan hangat karena selalu dipanaskan di tungku sebelum disajikan.

Untuk menemani hidangan kare kambing, Anda dapat memesan minuman seperti es teh, teh hangat, es, jeruk, dan minuman lainnya. Sebagai pelengkap, disediakan kecap botol dan jeruk nipis untuk menetralkan rasa kambing yang kuat. “Selain kare kambing, kami juga menyediakan kare sapi. Tapi pembeli lebih banyak yang memesan kare kambing”, jelas Bu Hj. Sani kepada Majalah SCG. “Satu hari, bisa habis daging 14kg, kalau lauk lainnya dihitung bisa lebih dari 25kg”, tambahnya. Selain di Jl. Semarang, kare kambing Bu Hj. Sani juga buka cabang di seberang Bambu Runcing (Jl. In Kos). Anda tidak perlu khawatir datang ke warung kare kambing karena lahan parkirnya luas. Tersedia untuk pengendara mobil dan sepeda motor.

julajuli.com

5. Depot Ampel

Jalan Ondemohen menyimpan kekayaan kuliner nusantara. Kekayaan kuliner dan lokasi yang terletak di jantung kota Surabaya ini menjadikannya sebagai salah satu destinasi kuliner yang dikunjungi masyarakat. Tidak hanya makanan yang berasal dari  nusantara, di Jalan Ondemohen juga terdapat makanan dari negri sebrang.

Berawal dari masakan  rumah H.M Fathony Abdulah, Depot Ampel didirikan di tahun 1994. Depot yang menjual makanan khas timur tengah ini menggunakan  resep dari sang istri. Karena memang istrinya memiliki darah timur tengah.  Usaha ini berawal ketika Fathony yang masih bekerja  di suatu perusahaan media memberikan nasi kotakan pada rekan yang ada di kantor. Salah satu menu nasi kotak yang dibawanya adalah nasi kabuli. Nasi kotak inilah yang menjadi cikal bakal dari usaha keluarga Fathony.

Depot Ampel ini juga sering dikunjungi oleh para pejabat, artis dan pecinta kuliner. Bondan Winarno, salah satu jurnalis kuliner yang dikenal sebagai jargon “Maknyusss!” juga pernah menjadi pengunjung dari depot yang menyajikan makanan khas Timur Tengah. Tidak hanya Bondan yang pernah mengunjungi depot Ampel. Andi Malarangeng salah satu menteri di era Presiden SBY, juga pernah mencoba makanan a la timur tengah Depot Ampel. Beberapa masakan timur tengah yang dijual di depot ini adalah kambing guling, nasi kabuli, nasi tomat, sate kambing serta nasi goreng kambing. Jika kita mencari review  nasi goreng kambing di Surabaya, Depot Ampel menempati peringkat teratas.

”Depot Ampel menggunakan daging kambing muda yang dicampur dengan rempah – rempah”, ungkap Fathony, owner Depot Ampel. Karena itu, ketika kita mencicipi daging nasi goreng ini kita merasakan tekstur daging yang lembut dan kenyal. “Daging yang digunakan oleh depot  ini menggunakan kambing yang berbobot sekitar 7kg , kambing yang masih muda  dan tidak banyak mengandung lemak”, ujar Fathony Nasi goreng kambing yang disajikan dengan telur ceplok mata sapi menambah kenikmatan dari nasi goreng. Cita rasa manis bercampur gurih terasa ketika berpadu dengan keripik emping. Bagi kalian yang gemar menyantap  daging kambing dengan aroma rempah yang minimalis, menu ini dapat menjadi pilihan.

julajuli.com

6. Sate dan Gule Kambing Simpang Dukuh

Sate dan gule kambing, siapa yang tidak kenal dengan kuliner satu ini? Di Surabaya, Anda dapat menemukannya di Gepot Sate dan Gule Kambing Jl Simpang Dukuh (Seberang MPM Motor). Depot yang berdiri sejak tahun 60-an ini hanya khusus menjual sate dan gule kambing saja. Cita rasa bumbu yang khas diturunkan oleh Abah Irsan kepada anak-anaknya. Dulunya depot berlokasi di seberang lokasinya saat ini, lalu pindah tempat. Walaupun begitu, rasanya tetap terjaga. Depot sate dan gule kambing Simpang Dukuh mudah ditemukan karena memiliki ciri khas pada tokonya. Di area depan depot digantung daging kambing yang sudah siap dipotong.

Seporsi sate terdiri dari 10 tusuk dengan harga Rp 35.000. Dagingnya matang sempurna dan tidak keras. Bumbu kecapnya dilengkapi dengan sambal, bawang merah, dan irisan jeruk nipis. Untuk sate, penjual baru membakarnya jika ada yang memesan. Hal ini agar sate tetap dalam keadaan hangat. Namun anda tidak perlu khawatir dengan debu dari arang pembakaran, karena meja makan pengunjung terletak di bagian dalam toko.

Sedangkan gule kambing diambil dari jeroan, babat, dan tetelan daging sapi. Lauknya lembut dan kenyal dengan kuah sedikit pedas. Penjual selalu menjaga tungku gule agar tetap hangat dan mengaduk kuahnya agar bumbu tidak mengendap. Kuah tersaji hangat dengan rasa gurih dari aneka rempahnya. Semangkuk gule kambing bisa Anda nikmati hanya dengan Rp 15.000 saja. Cukup terjangkau bukan?

Depot buka setiap hari mulai pukul 7 pagi hingga 8 malam. Selain menikmati hidangan di tempat, depot ini juga menerima pesanan. “Pesanan bisa berupa sate kambing, gule kambing, dan kambing guling. Tidak jarang juga kami menjual pesanan catering dan aqiqoh”, jelas Yoyok, salah satu karyawan Depot Sate dan Gule Kambing Simpang Dukuh.