Empat pilar di bagian depan jadi penanda kokohnya bangunan berusia 103 tahun ini. Bagian dalam bangunan masih dipertahankan sesuai aslinya, hanya saja bentuk pilar yang dulu bulat sekarang berganti kotak. Sedangkan ruang percetakan yang ada di sebelah rumah sudah beralih fungsi menjadi rumah hunian.

Sebelum menjadi Toko Buku Peneleh, dulunya bangunan berukuran ±240 M ini bernama Pertjetakan Peneleh. Terbukti dari sebuah foto repro yang terpampang di dinding bergambar Abdul Latif Zein, sang pemilik sedang menerima kunjungan Bung Karno. Pada foto tertulis tanggal 18 Desember 1965.

julajuli.com

Toko Buku Peneleh ini memiliki kedekatan khusus dengan organisasi islam Muhammadiyah. Setelah Abdul Latif berkenalan dengan K. H. Mas Mansyur, beliau bergabung di kepengurusan Muhammadiyah Surabaya dan aktif menerbitkan karya-karya K. H. Mas Mansyur, sebuah buku berjudul Syirik dan Tauhid, juga rutin menerbitkan buletin saat beliau mengisi khutbah Jumat.

Kehadiran Toko Buku Peneleh pada waktu itu juga digunakan sebagai tempat membaca oleh Bung Karno dan Kartosoewirjo. Maklum saja, letak bangunan yang berada di Jalan Peneleh gang VII ini hanya seperlemparan batu dengan rumah HOS Tjokroaminoto.

Selain menjual buku-buku Muhammadiyah, Toko Buku Peneleh ini saat ini berperan sebagai agen distributor majalah Suara Muhammadiyah (SM) ke daerah-daerah di Jawa Timur.