Tidak banyak yang tahu bahwa di sebuah sudut di lantai dasar sana ada saksi sejarah perbankan negeri ini. Dikatakan hidup segan matipun enggan bukan tanpa alasan. Tidak ada petugas yang menjaga, sebuah buku tamu pun diisi asal-asalan oleh para pengunjung, dan saat mencoba mencari seseorang untuk bercerita tentang museum ini, semua satu suara menjawab tidak tahu.

Saat mencoba bertanya kepada seorang bapak paruh baya yang sepertinya bertugas sebagai petugas keamanan, kami diarahkan untuk bertanya kepada bagian GA di lantai dua. Pun petugas parkir juga mengarahkan bertanya kepada GA. Beranjak ke lantai dua pun tidak membawa hasil berarti. Hanya jam operasional yang bisa dijawab dengan pasti oleh salah seorang pekerja, selebihnya hanya jawaban tidak dan kurang tahu. Saat mencoba bertanya lebih jauh adakah pegawai lain yang bisa dimintai keterangan, ia menjawab tidak ada karena pegawai di situ pun sering berpindah-pindah dari cabang ke cabang.

Tak banyak yang berubah dari fasad bangunannya. Masih tetap dua lantai dengan pilar tinggi menjulang menyangga bangunan. Lambang-lambang kebesaran Belanda masih terpampang di dinding-dinding museum meskipun mulai kusam dimakan waktu.

Museum Bank Mandiri sendiri berada di lantai 1, sedangkan lantai dua untuk operasional bank. Museum ini menempati sebuah ruangan kecil dengan luas tak seberapa yang terbagi atas dua bagian. Bagian pertama berisi peninggalan seperti brankas, mesin-mesin lawas, dan beberapa dokumen.

julajuli.com

Sedangkan ruangan satunya berisi peralatan yang lebih modern seperti layar komputer, mesin fotokopi, bendera, dan beberapa foto yang terpajang di dinding. Memasuki ruangan kedua membuat kami bertanya-tanya apakah barang yang ada di sini benar-benar peninggalan atau justru barang yang sudah usang, karena hanya diletakkan ala kadarnya seperti di gudang.

Beruntungnya sebuah papan berisi tahun-tahun penting yang dilewati oleh bank ini jadi juru selamat. Juga beberapa peninggalan di dalamnya seperti brankas, mesin hitung uang kertas, mesin tik, mesin kalkulator, dokumen resmi Escompto Bank mulai dari tahun 1900 sampai 1940, buku registrasi nomor rekening bank, mesin pembukuan, sampai beberapa komputer dan disket.

Dari secarik informasi itu, didapat informasi adalah Marius J. Hulswit arsitek asal Belanda yang mendesain dan membangun gedung Bank Escompto Kembang Kuning. Sebelum berubah menjadi Bank Mandiri, dulunya bank ini adalah Netherlandsch Indische Escompto Natchappij atau Escompto Bank. Lulusan Quellinus School Amsterdam juga jadi arsitek gedung Bank Escompto di kota besar lain seperti Batavia, Semarang, Bandung, Yogyakarta. Bangunan terkenal lainnya juga tak luput dari tangannya, seperti gereja Katedral Jakarta dan de Javasche Bank.

Bangunan dua lantai yang letaknya berseberangan dengan kantor Radar Surabaya ini telah berdiri sejak tanggal 22 Agustus 1857. Berdasarkan Akta Notaris JJ Mijnssen No. 132 tanggal 22 Agustus 1857 dan disahkan oleh pemerintah Belanda dengan surat keputusan no. 22 tanggal 5 Nopember 1857. Pendiri Escompto Bank adalah Paulus Tiedeman JR dan Carl Frederik Wilhelm Wigger Van Kerchen.

julajuli.com

Bisa dibilang, tahun 1859 adalah masa kejayaan Escompto Bank. Di tahun ini, sebanyak 14 kantor cabang dibuka di seluruh kota besar di Hindia Belanda. Pasang surut juga dialami oleh Escompto Bank. Dalam kurun waktu 1940 sampai 1947, Escompto Bank sempat menghentikan operasionalnya karena Perang Dunia II yang sempat mengakibatkan perekonomian di seluruh dunia menjadi porak poranda.

Setelah perang dunia usai, perekonomian dunia mulai bergeliat kembali.Escompto Bank pun merubah namanya menjadi Escompto Bank NV di tahun 1949. Di era ini pula Escompto terkenal dengan pekerjanya yang didominasi kaum pribumi. Sehingga pada saat pengambil alihan aset Belanda sekitar tahun 1957-1960, pekerja pribumi bisa dengan mudah menggantikan tenaga asing.

Karena nasionalisasi aset-aset Hindia Belanda, tepatnya pada tanggal 11 April 1960, Escompto Bank diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Dagang Negara. Sejak tanggal 9 Oktober 1998 Bank Dagang Negara dimerjer menjadi Bank Mandiri sampai sekarang.

Hari-hari dilalui museum ini dengan sepi. Tak banyak pengunjung yang datang di hari-hari biasa. Untungnya, Museum Bank Mandiri masuk di rute yang disinggahi oleh Bus Surabaya Heritage Track jadi penyelamat sepi. Jam buka museum ini mengikuti jam operasional Bank Mandiri, yaitu setiap hari Senin sampai Jumat mulai dari jam 08.00 hingga pukul 15.00.