Mendengar nama Gadel mungkin tidak asing di telinga masyarakat Surabaya Barat. Masuk di kawasan Kelurahan Karangpoh, Kecamatan Tandes, Surabaya. Selintas Desa ini terlihat biasa dan tak ada bedanya dengan Desa lain. Ternyata di balik semua ini, ada kisah menarik mengenai asal usul Desa Gadel dan beberapa keunikan yang ada di dalamnya.

Nama Desa Gadel diambil dari nama Daun Gadel, yaitu daun yang sejenis Daun Sirih. Aneka manfaat bisa didapat dari Daun Gadel, salah satunya adalah untuk menyembuhkan segala penyakit. Dahulu kala, warga Gadel percaya dan memanfaatkan daun ini untuk menyembuhkan luka dari ternak mereka.

Salah satu keunikan yang ada di Desa Gadel adalah Sumur Windu. Bukan sembarang sumur, Sumur Windu dipercayai warga Gadel dapat menyembuhkan penyakit. Beberapa kali warga dan pendatang yang tengah sakit mencoba mandi menggunakan air sumur tersebut. Percaya tidak percaya, penyakit yang diderita langsung sembuh.

Gus San Sarijoyo, juru kunci yang bertanggung jawab atas Sumur Windu. Sejak masih kecil, ia dan keluarganya sudah memanfaatkan sumur ini sebagai sumber air. Terkadang ia menggunakan air di sumur untuk mandi pula. “Saya percaya ada manfaat dari Sumur ini. Saya yakin air dari Sumur Windu bisa menyembuhkan penyakit”, ujarnya.

julajuli.com

Bangunan bata dan pagar kayu yang tinggi melindungi sumur ini. Setiap harinya, Sumur Windu disapu dan dibersihkan dari dedaunan kering yang jatuh dari pohon Trembesi, Beringin, serta Gebang yang berdiri menjulang di sebelah sumur. Tidak dapat diketahui pastinya, kedalaman dari sumur ini. Potongan bambu panjang saja tidak bisa mencapai dasar dari sumur ini. Gus San Sarijoyo menambahkan, konon dasar dari Sumur Windu berbentuk Tapal Kuda.

Warga Gadel mempercayai seorang leluhur yang sampai sekarang masih mereka hormati, ialah Mbah Joyo Singosari. Ia adalah sosok yang pernah menyelamatkan seluruh warga Gadel. Alkisah, ketika peristiwa G30S/PKI silam, seluruh warga Gadel hampir dibunuh. Pada saat yang sama pula, juru kunci dari Sumur Gadel yang bernama Mbok Siam tiba-tiba dirasuki oleh sosok Mbah Joyo Singosari. Dengan lantang, ia berkata bahwa tidak akan ada siapapun yang dapat melukai ataupun membunuh  seluruh warga Gadel.

Mbah Joyo Singosari menghimbau seluruh warga Gadel untuk tidak keluar dari desa pada waktu yang telah ditentukan. Esok harinya, seluruh tanaman di perbatasan Desa telah rusak diinjak-injak oleh ribuan orang. Mengejutkannya, seorang saksi menceritakan bahwa ribuan orang itu tidak bisa melihat keberadaan Desa Gadel. Lautan dengan ombak yang sangat besarlah yang dilihat mereka. Desa Gadel “hilang” dari pandangan mata penyerbu.

julajuli.com

Sejak itu, sebagian besar warga Gadel selalu mengadakan Ritual Sedekah Bumi. Ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali sebagai rasa syukur mereka. Doa dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa juga tak henti-hentinya mereka panjatkan. “Saya tidak pernah berharap kaya. Kesehatan, hidup cukup itulah yang selalu saya harapkan. Kalau Tuhan berkehendak pasti dikabulkan,” ujar Gus San Sarijoyo.

Zaman sudah semakin modern, pola pikir masyarakat sudah semakin modern pula. Tak jarang, ada warga yang menganggap ritual-ritual serta Sumur Windu adalah hal yang musrik. Tidak ada yang dapat menyalahkan atau yang membenarkan apa yang dilakukan warga Desa Gadel. Kepercayaan dari setiap individu bukanlah hal yang dapat disalah benarkan. Asalkan tidak merugikan pihak lain, kepercayaan dari seseorang bukanlah hal yang harus diikut campuri. Setiap manusia mempunyai pilihannya masing-masing dalam mempercayai suatu hal. (Naskah:Becca/Foto:Tyo)