Suasana kampung ini masih sama seperti dulu pada 2007, yang saat itu sempat mengakrabi mereka. Ya, sore itu Gunawan Djajaseputra (69), tampak duduk-duduk menghadap sebuah meja panjang sambil nyeruput es krim. Di sekitarnya tampak beberapa kawan Tionghoa dan juga Jawa. Mereka asyik cangkruk sambil jagongan. Ya, meja panjang yang oleh warga ditempati jualan makanan dan minuman itu seakan menjadi pusat berkumpulnya warga Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto Surabaya. Mereka biasa berkumpul dan sarapan pagi, serta menghabiskan sore dan malam hari di situ. Kekerabatan seperti itu mudah disaksikan di berbagai tempat. Tapi ini di sebuah kampung pecinan yang, konon, tertua di Surabaya.

Kapasan Dalam seolah menjadi miniatur sebuah kampung yang masih menjunjung tinggi kekerabatan. Fakta ini sekaligus menggagalkan stereotip bahwa kaum etnis Cina suka hidup sendiri-sendiri. Mereka berbaur dengan siapa saja anggota warga kampung, baik yang lama maupun yang baru berpindah dari daerah atau kota lain.

julajuli.com

Sikap kebersamaan itu, kata Gunawan, semakin tampak ketika ada acara tahunan sedekah bumi atau saat perayaan imlek. Seluruh warga di RW VIII, yang terdiri dari 6 RT ini, berjibaku mengadakan selamatan atau nanggap wayang semalam suntuk. Seluruh prosesi dipusatkan di dekat meja panjang tempat berkumpulnya warga, yang dikelilingi oleh kantor Kelurahan Kapasan, pos jaga, kelenteng Bon-Bio, lapangan basket, Balai RW, dan rumah arsitektur lama warga Kapasan Dalam.

Pelaksanaan acara selamatan desa itu biayanya ditanggung bersama seluruh warga. Selain itu, setiap warga juga berbondong-bondong membawa sesaji selamatan pada saat acara. Sebagian dinikmati bersama warga, sisanya dibawa pulang untuk disuguhkan pada keluarga yang tengah berkumpul di rumah.

julajuli.com

Sehari-harinya, anak-anak muda etnis Cina dan Jawa Kapasan Dalam lebih sering memuaskan kegiatan bermainnya di lapangan basket. Anak-anak kecilnya bersepeda berputar-putar di sisi lapangan. Semua berbaur dalam keceriaannya masing-masing. Lapangan basket ini, katanya, merupakan satu-satunya lapangan yang ada di tengah kampung di Surabaya. Dulu, lapangan ini menjadi ajang latihan serius sehingga pernah menghasilkan pemain basket nasional. Sekitar 15 tahun lalu masih sanggup memunculkan pemain terbaik. Tapi, kini lapangan basket itu hanya dipakai main-main ala kadarnya.

Cerita tentang Kapasan Dalam tidak hanya di situ. Kampung ini juga kerap menjadi laboratorium penelitian arsitektur bagi penelitian mahasiswa artitektur perguruan tinggi di Surabaya, semisal UK Petra Surabaya. Setiap tahun, sejumlah rumah-rumah lama Surabaya yang masih terjaga hingga kini menjadi obyek studi yang menarik. Bila ingin mengetahui arsitektur rumah lama  Surabaya, antara lain, di sinilah tempatnya.

julajuli.com

Kapasan Dalam kerap disebut sebagai kampung yang sarat kisah heroik di masa lalu. Kisahnya dimulai pada abad ke-11, ketika orang-orang Tiongkok masuk ke Surabaya, tepatnya di wilayah utara. Para perantau yang tinggal di Kapasan Dalam tidak hanya dari golongan pedagang saja, melainkan juga para ahli kungfu. Kehebatan kungfu dan jiwa nasionalisme mereka membuatnya selalu kritisdan memberontak pada kebijakan Kolonial Belanda. Mereka pun dikenal dengan sebutan Buaya Kapasan.

Dulu, Kapasan merupakan hutan yang ditumbuhi pepohonan randu. Lalu Belanda menunjuk orang untuk menjabat di daerah Kapasan, seperti The Boen Keh, The Ing Bian, The Swie Bie, dan J.C. Van Kraayenoord. Mereka berinisiatif membabat habis pohon randu yang ada di Kapasan untuk ditanami pohon trembesi dan dijadikan sebagai perkampungan.

Ada banyak cerita lagi tentang kampung ini di masa lalu. Pernah Belanda melarang warga memainkan wayang Potehi. Tapi warga tetap memainkannya. Disuruh Belanda main di jalan raya, warga tidak mau, dan tetap memainkannya di dalam kampung. Alhasil Belanda marah dan menggempur kampung ini dengan mortir dahsyat di Kapasan. Namun, konon, mortir itu terjatuh layaknya kapas; ringan, melayang, tak meledak. Hal itu terjadi karena pengaruh para sakti dan ahli kungfu yang mumpuni di kampung ini. Tersebutlah para legenda ahli kungfu di Kapasan Dalam, antara lain Liem Gin Gwan, Po Giok, Bo Tjwan, Bo Sing, Bo Tik, Koei Hiano, dan Jin Hai. Namun, sekitar tahun 60an, legenda kungfu telah berakhir, tak berlanjut lagi ke generasi berikutnya.

julajuli.com

Masih banyak cerita lain yang bisa ditelusuri dari para sesepuh di kampung ini. Secara fisik, Kapasan Dalam juga masih menyisakan tapak sejarahnya. Ada bangunan tua, punden bekas pohon trembesi, terop sedekah bumi, dan klenteng Boen Bio yang berada tepat di bagian depan kampung. Keberadaan klenteng ini selisih beberapa puluh tahun dari kelahiran kampung. Kapasan dalam kira-kira berusia 123 tahun pada 2019 ini, sementara Klenteng Boen Bio berusia 113 tahun. Benarkah? Memang perlu konfirmasi para ahli sejarah untuk memastikannya.

julajuli.com

Aspek kesejarahan itulah yang membuat kampung Kapasan Dalam selalu menarik dikunjungi oleh wisatawan maupun anak sekolahan. Apapun bentuknya, apakah cerita, hikayat, ataupun sejarah, mampu membuat terkesima para pendatang. Aspek akademisnya juga menarik menjadi studi, baik tentang kekerabatannya, pola komunikasinya, maupun beberapa aspek arsitekturnya.

Menjelang perayaan imlek, yang tahun ini jatuh pada 5 Februari 2019, nuansa kampung Kapasan Dalam tampak bagai kamping pecinan. Ada lampu-lampu lampion yang menghias kampung. Gong Xi Fa Cai...