Kampung Wisata Jambangan telah terbentuk, setidaknya sudah dimulai sejak tahun 2000 dan layak kunjung pada 2013. Nyaris semua hal yang berkenaan dengan penataan dan pengelolaan lingkungan, Kampung Jambangan adalah laboratoriumnya. Mulai dari penataan kampung, pengelolaan sampah, air dan kreatifitas, tumbuh dengan subur.

julajuli.com

Kesadaran menata lingkungan sebenarnya sudah tumbuh sejak puluhan tahun sebelumnya. Begitu dibentang menjadi perkampungan pada 1960, Jambangan diserbu warga kota untuk tempat tinggal. Tak lama pun kampung ini padat oleh penduduk. Karena terbentuknya kampung tak dibarengi dengan sistem penataan yang rinci, lingkungan akhirnya tak terkelola dengan baik. Kondisi itu berlangsung hingga 13 tahun kemudian.

julajuli.com

Pada 1973, muncul semangat seorang warga bernama Sriyatun Djupri yang tergerak hati untuk memulai peduli lingkungan. Kepedulian itu kemudian terus bergayung sambut dengan warga yang lain. Mereka bergotong royong menjadikan kampungnya bersih, teratur, rapi. Pemeliharaan lingkungan itu antara lain penanaman pohon, membersihkan bantaran sungai, hingga pemanfaatan barang bekas pakai. Tak heran, berkat usaha dan kegigihannya, Sriyatun akhirnya dianugerahi penghargaan kalpataru atas jasanya melestarikan lingkungan hidup di sekitar tempat tinggalnya.

Sriyatun boleh sudah wafat, tapi semangatnya terus terwarisi oleh generasi sesudahnya hingga kini. Bahkan kreatifitas warga terus tumbuh seiring perkembangan masa. Pengelolaan sampah tidak lagi sebatas memilah jenis organik dan non-organik. Sampah organik telah diolah menjadi kompos, sedangkan non-organik berupa plastik diolah kembali menjadi tas, baju, pot bunga, payung, jaket dan souvenir.

julajuli.com

Limbah air yang berasal dari kegiatan masyarakat seperti mencuci atau mandi pun diolah dan dimurnikan dengan cara penyaringan. Air yang telah disaring ini bisa dipakai kembali oleh warga untuk menyiram tanaman, sekaligus untuk menjaga sanitasi lingkungan.