Suatu hal yang biasa ketika kapal feri itu mulai meninggalkan Tanjung Perak Surabaya, membawa penumpang dan mengangkut adegan-adegan biasa yang terjadi di dalamnya. Pedagang asongan, petugas masjid yang minta sumbangan, penumpang yang merebahkan badan mengambil empat sampai lima deretan kursi untuk dipakai sendiri. Hingga 30 menit berikutnya kapal itu menepi di Kamal Madura, dan tak lama menunggu untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Berulang seperti biasa…

julajuli.com

Yang membuat perjalanan itu kini begitu tidak biasa adalah karena suasananya yang semakin sepi dibanding 10an tahun yang lalu, sebelum jembatan Suramadu resmi dibuka. Kala itu, penyeberangan feri Ujung – Kamal menjadi satu-satunya pilihan transportasi penyeberangan Surabaya ke Madura.

julajuli.com

Warga Madura pasti hafal adegan biasa yang berulang tiap harinya itu. Yang berusia lebih muda, walau samar-samar pernah dengar cerita serunya tentang kemacetan panjang, pedagang asongan yang menaikkan harga sesuka hatinya, hingga cerita copet yang menyaru jadi penumpang.

julajuli.com

Cerita kejayaan Feri itu kini mulai meredup. Sampai awal 2019, dalam satu hari penyeberangan dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam, hanya ada 3 kapal yang beroperasi. Namun mulai februari tahun ini, jumlahnya kembali berkurang. Hanya dua kapal yang beroperasi dari tiga kapal yang siap melayani secara bergantian: Tongkol, Joko Tole, dan Gajahmada.

julajuli.com

"Sepi Mas, sekarang," keluh Misinnah, pedagang kacang dan air minum di Dermaga Kamal. Bahkan kalau lagi sepi dan hanya ada satu kapal yang beroperasi, calon penumpang rela memilih balik putar arah lebih jauh, menyeberang lewat Jembatan Suramadu. ”Daripada nunggu kapal kelamaan.” ujarnya.