Amat singkat, kesan pertama seseorang saat bertatap muka dapat tercipta dalam 39 milisekon pertama. Faktor apa yang lantas menjadi penentu interpretasi ini? Ya, meski mungkin sebagian besar dari kita enggan mengakuinya, namun nyatanya bentuk wajah menjadi salah satu hal krusial tatkala menilai seseorang untuk kali pertama. Memfasilitasi kebutuhan dalam pembentukan wajah, MIRACLE Aesthetic Clinic meluncurkan metode terbarunya yang diberi nama The Science of Facial Architecture.

Metode yang diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ke 23 klinik kecantikan ini menggabungkan cita rasa seni dan sains dalam mengonstruksi wajah. Founder & President Director MIRACLE Aesthetic Clinic Group, dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM. mengumpamakan hal ini layaknya membangun sebuah rumah. “Seperti ketika membangun sebuah bangunan, dalam metode ini semuanya terukur. Dirancang dengan baik terlebih dahulu sebelum akhirnya dilaksanakan. Tidak lagi hanya menggunakan intuisi dalam menangani kebutuhan pasien,” jelasnya pada Rabu (7/8).

julajuli.com

 Klinik estetika yang bertempat di M. H. Thamrin ini mengombinasikan konsep pembentukan wajah oleh Dr. Mauricio de Maio, ahli bedah plastik asal Brazil, dengan teknologi serta pelayanan yang dimiliki. Pada proses awal, facial assessment misalnya, melibatkan penggunaan teknologi. “Ketika facial assessment, pasien akan difoto menggunakan teknologi Quantivicare, kamera 3D imaging. Dari sini, akan diketahui bagian-bagian mana saja yang dirasa kurang,” ucap dokter yang akrab disapa dr. Lanny ini.

julajuli.com

Usai tahapan facial assessment, dokter akan merencanakan program perawatan yang sesuai, sebelum akhirnya mengaplikasikannya. Serangkaian perawatan mulai perbaikan struktur kulit untuk fondasi, kontur, sampai detil-detil serta harmonisasi bagian wajah tak terlewatkan. The Science of Facial Architecture sendiri dapat menjadi salah satu alternatif agar dapat terlihat awet muda. “Melalui metode ini, diharapkan akan menghasilkan tampilan versi terbaik dari setiap pelanggan, serta memberikan dampak yang positif bagi kehidupan sosialnya,” pungkas dr. Lanny. (Naskah: Nancy)