Hari kemerdekaan makin dekat. Selebrasi untuk menyambut tanggal bersejarah ini dilakukan berbagai kalangan, salah satunya oleh seniman. Terinspirasi dari kobar semangat perjuangan melawan penjajah, 20 seniman muda dari berbagai kota di Indonesia menggelar pameran bertajuk Jangan Bung di Galeri Paviliun House of Sampoerna.

Pemberian nama Jangan Bung bukannya tanpa makna. Berangkat dari keberagaman latar belakang para seniman, kata jangan atau sayur dalam bahasa Jawa dipilih. Analogi ini dipilih karena meski berbeda, para seniman dapat membentuk harmoni dan menciptakan sesuatu yang dapat dinikmati semua orang. Sementara, kata bung atau rebung (bambu muda) menggambarkan tombak bambu yang digunakan sebagai senjata bagi rakyat untuk melawan penjajah.

julajuli.com

Sentuhan khas dan unik dari tiap seniman memberikan kesan sendiri pada tiap karyanya. Karya Fajrin Puspa Adelvia yang berjudul Leader, misalnya. Pada lukisannya, wanita itu menggambarkan sebuah payung yang menarik pulau. Inspirasi datang dari fungsi payung yang dulu berfungsi sebagai penunjuk status sosial seseorang, termasuk seorang pemimpin. “Maka dari itu, dia menarik sebuah pulau. Pulau itu menggambarkan orang-orang yang sedang ia pimpin,” ceritanya pada Rabu (14/8).

julajuli.com

Tak hanya membawa satu karya, sebagai bentuk kemerdekaan berekspresi, Fajrin melukis warna dalam kanvas lain. Tak ada makna khusus, seniman tersebut hanya ingin menuangkan perasaan di sana. “Tema pamerannya, kan tentang 17 Agustus. Menurutku, kita nggak akan pernah tahu apa arti kemerdekaan, kalau kita belum bisa memerdekakan diri sendiri,” katanya. Selain Fajrin, para seniman lain juga menyajikan cerita tak kalah menarik di balik karya masing-masing. Pameran karya dua dan tiga dimensi ini sendiri berlangsung mulai Kamis (15/8) hingga Sabtu (7/9). (Naskah: Nancy, foto: Steven)