Dihelat untuk kali ke-tujuh membuat kegiatan Bromo Marathon jadi destinasi sport tourism yang mampu menyedot animo peserta bukan hanya dari Indonesia, tapi juga luar negeri. Karena bukan hanya sekadar lari, Bromo Marathon diminati karena suguhan pemandangan alamnya yang indah.

Menurut Irsyad Yusuf, Bupati Pasuruan Bromo Marathon ini berbeda dengan kegiatan lari yang lain. “Bromo Marathon ini yang dijual adalah Bromo dan pemandangannya yang eksotis juga tantangan lari yang berbeda,” tutur Irsyad saat ditemui usai melepas peserta Bromo Marathon 2019 pada hari Minggu (1/9).  

Bromo Marathon kali ini menggabungkan tiga unsur yang berbeda yaitu sport, entertainment, dan culture. Diungkapkan oleh Yosua Makes, CEO Plataran Indonesia, selain kental unsur sport, dua unsur lain bersinergi menjadi daya tarik Bromo Marathon 2019 yang mengambil start dan finish di Plataran Bromo yang berada di Desa Tosari. “Kalo acara lari lain hanya kuat di sport saja, Plataran menambahkan dua unsur yaitu entertainment dan culture. Untuk sisi entertainment ada band Gigi, kalau culture kita angkat kebudayaan lokal suku Tengger,” kata pria berkacamata yang ditemui saat sesi press conference di Syailendra, Plataran Bromo.

julajuli.com

Untuk rute, kata Dedi Dedi Kurniawan, Founder Galanesia dan pencetus Bromo Marathon, menggabungkan antara road dan trail dengan elevasi yang berbeda-beda, mulai dari 1300 sampai 2400 dpl. Sedangkan untuk medan yang ditempuh pun beragam mulai dari ladang, tanah, jalan aspal, dan paving yang menanjak dan turunan curam.

“Setelah start, peserta harus berlari menanjak melewati Desa Ngadiwono, di sini ada pura desa yang desain arsitekturnya unik dan struktur perkampungan yang bertingkat. Selanjutnya saat masuk Dusun Ngawu, Desa Podokoyo, peserta mulai masuk rute tanah atau trail run dengan pemandangan kebun dan hutan. Keluar dari rute ini, ada view lautan pasir yang merupakan spot selfie terbaik yang menyambut peserta. Di sini biasanya peserta berhenti lama untuk berfoto. Pada beberapa titik mendekati garis finish, peserta bisa melihat pemandangan pepohonan dan beberapa kawanan monyet,” ungkap Dedi.

Bromo Marathon kali ini berhasil diikuti 1800an peserta, meningkat sebesar 20 persen dibandingkan tahun lalu yang diikuti 1500an peserta dari dalam dan luar negeri. Terbagi dalam empat kategori yaitu 5K, 10K, 21 K atau Half Marathon, dan Full Marathon. Masih menurut Dedi, kategori yang paling banyak diikuti adalah 10K yaitu 600an peserta, disusul Half Marathon sebanyak 500an peserta.